Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Kamis, 28/08/2008
Perang bunga deposito hambat penjualan ORI005
JAKARTA: Aksi bank yang berlomba menaikkan bunga deposito dan perdagangan pasar sekunder obligasi negara ritel Indonesia (ORI) yang kurang transparan, diduga menjadi pemicu minimnya minat beli pemodal terhadap penawaran ORI005.
Berdasarkan laporan agen penjual kemarin, jumlah pemesanan ORI005 mencapai Rp2,78 triliun dari target indikatif pemerintah Rp6 triliun. Lima agen penjualan tertinggi yaitu BNI 92,36% dari target, Danareksa 80,94%, BCA 76,76%, Bank Mandiri 69,87%, Trimegah 52,69%.
Lima agen penjual berkinerja buruk adalah Bank Mega 4,21% dari target, Danamon 4,24%, Bank Niaga 8,15%, HSBC 10,46% dan NISP baru 12,82% dari target yang ditetapkan.
Direktur Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto mengatakan saat ini perbankan kesulitan likuiditas sehingga mereka (khususnya agen penjual bank) berupaya menarik nasabah agar menanamkan modalnya di deposito dengan menawarkan bunga yang cukup tinggi.
"Saat ini berlangsung perang bunga deposito antarbank. Pasalnya, banyak bank mengalami kesulitan likuiditas. Akibatnya bunga deposito dinaikkan untuk menarik deposan," ujarnya kemarin.
Sebagai contoh, lanjutnya, ada informasi bahwa beberapa bank menawarkan deposito Rp5 miliar 6 bulan dengan bunga 12%, sementara ORI005 memberikan kupon 11,45% untuk 5 tahun.
Direktur Surat Berharga Nasional Depkeu Bhimantara Widyajala mengatakan Depkeu juga akan mengevaluasi agen penjual sebagai masukan dalam proses seleksi agen penjual ORI tahun depan.
"Hasil evaluasi itu akan menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan atau diukur dari beberapa aspek yang dinilai. Namun, tidak otomatis jika tidak mencapai target lalu tidak boleh menjadi agen penjual lagi, karena kami akan mengevaluasinya secara komprehensif," tuturnya.
Dia mengatakan pemilihan agen penjual ORI005 mengikuti proses seleksi sebagaimana diatur dalam ketentuan pengadaan barang dan jasa. Jadi, pada awal tahun telah dilakukan seleksi untuk kegiatan itu dalam tahun anggaran 2008.
Pasar sekunder
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), perdagangan seluruh seri ORI pada kurun waktu Januari-Juli mencapai Rp36,4 triliun atau rata-rata Rp5,2 triliun per bulan. Nilai transaksi bulanan itu mencerminkan 16,08% dari total nilai emisi ORI seri 001-004 sebesar Rp32,34 triliun.
Direktur Perdagangan Fixed Income dan Derivatif Bursa Efek Indonesia T. Guntur Pasaribu menilai hal itu karena pemodal ritel masih melihat dengan sudut pandang investasi jangka pendek.
"Pemodal khawatir terhadap kecenderungan suku bunga dan inflasi yang tinggi. Padahal, BI Rate diekspektasikan turun mulai tahun depan. Dengan begitu, spread [perbedaan] imbal hasil ORI dengan BI Rate pada masa datang mestinya kian membesar," tuturnya.
Menurut Guntur, imbal hasil ORI005 masih menarik pada saat BI Rate berada di level 9%, sedangkan imbal hasil ORI005 sebesar 11,45%.
Tingkat imbal hasil yang ditawarkan ORI005 ini, lanjutnya, juga masih lebih menarik jika menggunakan pembanding US Treasury berjangka waktu sama yakni lima tahun. Imbal hasil surat utang Pemerintah AS yang jatuh tempo pada 31 Juli 2013 penutupan pasar Rabu berada di level 3,05%.
Guntur menilai dengan spread ORI005 dengan US Treasury sebesar 8,40% lebih besar dibandingkan dengan spread antara obligasi Pemerintah AS itu dan ORI seri sebelumnya hanya 4,5%.
Selain itu, Guntur juga menyoroti aksi sejumlah agen penjual yang memperdagangkan ORI seri terdahulu dengan membebankan spread rata-rata 50 basis poin-60 basis poin kepada nasabah.
"Semestinya jangan lebih dari 10 basis poin." (16/21) (pudji.lestari@bisnis.co.id/ rahayuningsih@bisnis.co.id)
Oleh Pudji Lestari & Rahayuningsih
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- REKOMENDASI
Panin Sekuritas: - REKOMENDASI
Optima Securities: - REKOMENDASI
Millenium Danatama: - REKOMENDASI
Indosurya Securities: - Tugu Pratama lepas 30% saham ke pasar tahun ini