Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 29/08/2008

Mengunduh hasil integrasi bisnis Indofood

Bagi perusahaan yang memiliki ketergantungan pada komoditas perkebunan dan pertanian, penurunan harga komoditas dua sektor itu tentu akan membawa berkah.

Pun bagi produsen mi terbesar di dunia, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Longsornya harga komoditas perkebunan dan pertanian akan memberi gairah baru menggenjot kinerja keuangan perseroan yang sebelumnya sempat dibayangi oleh tingginya harga CPO dan gandum.

Ya, penurunan harga komoditas tersebut bisa saja disebut berkah bagi Indofood. Pasalnya, perseroan sebelumnya mengambil skenario terburuk melalui konsolidasi bisnis di sektor hulu untuk meminimalisasi lonjakan harga pangan dunia.

Setelah keluarnya pengumuman mengenai kenaikan harga pangan dunia dari Asianomic Ltd mengenai ancaman kenaikan harga pangan dunia, emiten ini merespons isu tersebut dengan mengakuisisi PT London Sumatera senilai Rp5,7 triliun.

Hal ini dilakukan mengingat Indofood memenuhi hampir 70% minyak sawit mentah CPO melalui impor. Akuisisi itu memungkinkan perseroan meminimalisasi risiko akibat kenaikan harga CPO di pasaran internasional.

Tak hanya CPO, perusahaan milik Grup Salim ini juga masuk ke industri gula dengan membeli 60% saham di PT Laju Perdana Indah senilai Rp375 miliar.

Indofood menilai saat ini masih terdapat kekurangan pasokan gula di dalam negeri dan juga terjadi pengalihan penggunaan lahan dari tanaman untuk kebutuhan pangan menjadi tanaman untuk kebutuhan energi.

Langkah mengakuisisi beberapa perusahaan agribisnis itu ditempuh, setelah sebelumnya emiten ini hanya didukung oleh satu perusahaan untuk memenuhi kebutuhan produksi mi, yaitu PT Bogasari Flour Mills.

Meski ancaman harga pangan yang melonjak berangsur mulai berlalu, CIMB-GK Securities mengapresiasi langkah Indofood yang berancang-ancang dengan skenario terburuk melalui berbagai akuisisi itu.

Dalam riset yang dipublikasikan 14 Agustus, analis bursa dari CIMB-GK Securities Erwan Teguh mengungkapkan akuisisi tersebut memungkinkan Indofood memiliki entitas sangat kuat untuk kesinambungan produksi perseroan.

Lewat akuisisi Lonsum, Indofood mampu mengamankan pasokan CPO. Kebutuhan tepung terigu bisa diamankan dari Bogasari. Sedangkan pasokan gula akan diamankan  lewat Laju Perdana.

"Namun yang juga perlu dilihat, turunnya harga komoditas pertanian dan perkebunan akan memberikan profitabilitas yang tinggi bagi Indofood," ujarnya.

Tak hanya berhenti di gula, Indofood sedang bernegosiasi untuk membeli saham perusahaan pengolahan susu PT Indolakto secara tidak langsung melalui pembelian 100% saham Drayton Pte yang menguasai 68,57% saham Indolakto.

Indolakto merupakan produsen berbagai jenis susu seperti merek Indomilk, Cap Enaak, Tiga Sapi, Orchid Butter, dan es krim bermerek Indoeskrim.

Hingga akhir tahun, CIMB-GK Securities memperkirakan laba bersih yang bisa diraup perseroan mencapai Rp1,70 triliun, atau naik 73,4% dari tahun lalu sebesar Rp980 miliar.

Kenaikan itu berasal dari lonjakan pendapatan perseroan yang diproyeksikan oleh perusahaan sekuritas itu mencapai Rp41,13 triliun, atau naik 47,5% dari pendapatan yang dicatat selama 2007, yang mencapai Rp27,85 triliun.

"Dalam pandangan kami, membaiknya penjualan dari produk andalan Indofood, Indomie, akan memberikan dampak jangka panjang bagi perseroan.," tulis Erwan.

Penjualan melonjak


Indofood membukukan lonjakan penjualan bersih 53,8% pada semester I tahun ini menjadi Rp18,92 triliun dibandingkan dengan penjualan pada periode yang sama tahun lalu Rp12,30 triliun.

Dalam siaran pers kemarin disebutkan pertumbuhan penjualan terbesar berasal dari usaha Agribisnis sebesar 137,4%, disusul Grup Bogasari 42,3%, Grup Produk Konsumen Bermerek 30,3%, dan distribusi 28,5%.

Laba bersih Indofood pada semester I/2008 naik menjadi Rp827,45 miliar dibandingkan dengan laba pada periode yang sama tahun lalu Rp367,18 miliar.

CIMB-GK menilai kinerja Indofood outperform, dan menargetkan harga saham bisa mencapai Rp3.000 per saham. Dengan mengacu pada harga tersebut, rasio pendapatan per saham dibandingkan dengan harga per saham (price to earning ratio/ PE) bisa menyusut menjadi sebesar 11,7 kali selama tahun ini, dari tahun lalu 20,2 kali.

Harga saham emiten berkode INDF ini kemarin ditutup di posisi Rp2.090 per saham atau naik 6,63% dari penutupan hari sebelumnya, Rp1960 per saham. Apabila mengacu pada harga saham itu, kapitalisasi pasar perseroan mencapai Rp19,73 triliun, dan PE sebesar 15,03 kali.

Di sisi finansial, rencana perseroan untuk kembali menerbitkan saham treasury sebanyak 251,8 juta saham juga membuka peluang bagi Indofood meraup dana segar Rp500 miliar. (bambang.jatmiko@bisnis.co.id/wisnu.wijaya@bisnis.co.id)

Oleh Bambang P. Jatmiko & Wisnu Wijaya
Wartawan Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • PREDIKSI
    Indeks dibayangi koreksi saham bank
  • Qtel tender offer Indosat
    pekan ketiga Januari
  • Suspensi Sarijaya
    berpotensi diperpanjang
  • Divestasi Semen Kupang batal