Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 30/08/2008

Prime jajaki kredit bank & strategic sale

JAKARTA: PT Prime Petroservices menyiapkan opsi strategic sale dan kredit bank jika penawaran saham perdana (initial public offering/ IPO) gagal digelar.

Sekretaris Perusahaan Prime Petroservices Erlan Hidayat mengatakan perseroan menyiapkan skenario terburuk jika IPO tidak bisa dilaksanakan dengan pertimbangan kondisi pasar.

"Dana yang diraup perseroan pun akan lebih kecil daripada yang diperoleh melalui IPO. Namun, kami optimistis IPO bisa segera digelar, dan paling lambat kami menargetkan pada September atau sebelum Lebaran," katanya kepada Bisnis kemarin.

Menurut dia, perseroan beberapa waktu lalu memang meminta kepada Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) agar IPO bisa ditunda lantaran kondisi pasar finansial yang masih fluktuatif, di samping persyaratan administrasi yang masih perlu dilengkapi.

Erlan mengungkapkan jika IPO tidak bisa digelar September, perseroan akan kembali memulai dari awal untuk menyiapkan proses tersebut.

"Kami menggunakan laporan keuangan kuartal I/2008 yang bisa berlaku hingga September. Jika lebih dari bulan tersebut, kami harus menggunakan laporan keuangan per Juni, dan butuh waktu untuk mengaudit kembali," ujarnya.

Dalam IPO yang akan digelar, perusahaan penunjang eksplorasi migas ini akan menawarkan 1,78 miliar saham dan 1,425 miliar waran dengan harga antara Rp180-Rp220 per saham.

Dana yang diperoleh akan dipakai untuk membiayai pembangunan kilang LNG di Bali senilai Rp3 triliun. Infrastruktur tersebut berkapasitas 300.000 ton per tahun di Pagerungan dan LNG receiving terminal di Pesanggaran dan Gilimanuk. Pembangunan diharapkan bisa diselesaikan hingga 2010.

Untuk menutupi sisa kebutuhan dana, perseroan sedang bernegosiasi dengan empat bank untuk mencari pinjaman Rp1,8 triliun untuk membiayai sebagian kebutuhan dana pembangunan fasilitas LNG di Bali senilai Rp3 triliun.

Oleh Bambang P. Jatmiko
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • PREDIKSI
    Indeks dibayangi koreksi saham bank
  • Qtel tender offer Indosat
    pekan ketiga Januari
  • Suspensi Sarijaya
    berpotensi diperpanjang
  • Divestasi Semen Kupang batal