Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 30/08/2008

Laba bersih Antam anjlok 49%

JAKARTA: Laba bersih PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada semester I/2008 anjlok 49% tergerus penurunan harga nikel dan permintaan global, serta lonjakan biaya produksi.

Dalam enam bulan pertama tahun ini, BUMN pertambangan ini membukukan laba bersih Rp1,46 triliun atau Rp153,61 per saham dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp2,87 triliun atau Rp301,24 per saham.

Jika ditilik lebih jauh, penurunan terbesar terjadi pada kuartal kedua, dengan perolehan laba bersih merosot 56% menjadi Rp789,84 miliar dari sebelumnya Rp1,8 triliun. Angka ini didapat dengan mengurangi kinerja semester I dengan kuartal I.

Pada saat yang sama, penjualan Antam pada semester I/2008 juga turun meski tipis 7,37% dari Rp6,01 triliun menjadi Rp5,57 triliun.

Dirut Antam Alwin Syah Loebis mengatakan penurunan tersebut disebabkan oleh penurunan harga komoditas andalannya yakni nikel.

"Kami berencana untuk menurunkan anggaran sebesar 10% pada tahun ini. Kami juga mempercepat program konversi energi dan berharap studi kelayakan penggunaan batu bara sebagai energi pembangkit listrik dapat diselesaikan pada akhir tahun," jelasnya kemarin.

Beban pokok penjualan untuk periode Januari-Juni melonjak 73% dari Rp1,84 triliun menjadi Rp3,19 triliun, didorong oleh peningkatan biaya produksi 67% menjadi Rp3,39 triliun. Biaya produksi yang memakan porsi 87% dari total biaya ini terdiri dari biaya pemakaian bahan, jasa penambangan bijih, pemakaian bahan bakar, biaya karyawan yang dibebankan pada biaya produksi dan penyusutan.

Laba Timah

PT Timah Tbk membukukan kenaikan laba bersih sebesar 42,43% dari Rp780 miliar atau Rp1.551 per saham menjadi Rp1,11 triliun atau Rp2.209 per saham.

Lonjakan keuntungan terjadi meski penjualan perusahaan pertambangan pelat merah ini hanya naik 3,06% dari Rp4,08 triliun menjadi Rp4,20 triliun. Namun, pada saat yang sama, beban pokok penjualan perseroan turun sebesar 12,76% dari Rp2,60 triliun menjadi Rp2,27 triliun.

Karena itu, laba kotor perseroan tumbuh 30,96% dari Rp1,48 triliun menjadi Rp1,93 triliun. Laba usaha perusahaan pertambangan yang berbasis di Pangkalpinang, ibu kota provinsi Bangka Belitung ini naik dari Rp1,27 triliun menjadi Rp1,67 triliun.

"Saya lagi di luar negeri dan tidak hafal angka-angkanya," kata Sekretaris Perusahaan Timah Abrun Abubakar ketika dimintai keterangan mengenai kinerja perseroan tersebut.

Meski keuntungan perseroan naik, harga saham berkode TINS ini justru anjlok 2,83% atau Rp75 ke level Rp2.575, menjadikannya berkapitalisasi pasar Rp12,96 triliun.

Dalam setahun terakhir harga saham TINS telah memberikan keuntungan sebesar 121,48% kepada pemegang sahamnya, meski pada sepanjang tahun ini harga saham itu turun 10,28%. 

Oleh Pudji Lestari
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • PREDIKSI
    Indeks dibayangi koreksi saham bank
  • Qtel tender offer Indosat
    pekan ketiga Januari
  • Suspensi Sarijaya
    berpotensi diperpanjang
  • Divestasi Semen Kupang batal