Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 05/09/2008
Mencermati laju bisnis minyak AKR
Sejak deregulasi sektor hilir migas pada 2005, bisnis PT AKR Corporindo Tbk berkembang pesat setelah menggenjot bisnis distribusi BBM. Mengikuti sukses itu, sahamnya di pasar membagikan gain 445,45% dalam tiga tahun.
AKR menjadi perusahaan swasta pertama yang menggarap bisnis ini dan menduduki posisi terbesar. Perseroan tahun ini mengestimasikan volume penjualan BBM sebesar 900.000 kiloliter, atau meningkat lebih dari 900% sejak 2005.
PT CIMB-GK Securities Indonesia mencatat penjualan BBM berhasil mendongkrak pertumbuhan laba kotor rata-rata (compounded annual growth rate/ CAGR) AKR sebesar 405% pada dua tahun terakhir, dan diperkirakan mencapai Rp9 triliun pada akhir 2008.
Kinerja tersebut diikuti sahamnya berkode AKRA yang kemarin ditutup di level Rp1.320 per unit saham, atau meroket hampir 450% dibandingkan dengan level harga pada hari penutupan sama 2005 sebesar Rp242.
Dalam laporan riset per 1 September, analis PT Asia Kapitalindo Securities Tbk Wahyu Mardi Widarini, Supriyadi, dan Widhi Indratmo Nugroho memperkirakan posisi AKR sebagai distributor BBM terbesar tidak akan mudah digeser, karena perseroan telah berinvestasi memperluas jaringan penyaluran.
"AKR memiliki kekuatan seperti pengalaman panjang, in- vestasi besar, dan jaringan luas. Sulit bagi pemain baru meraih kepercayaan dari penyuplai jika tidak mem- punyai fasilitas distribusi memadai," tulis mereka.
Bahkan, lanjut mereka, kekuatan distribusi AKR bisa diadu dengan Pertamina yang notabene dedengkot BBM Indonesia di pasar BBM nonsubsidi.
Alasannya, AKR menawarkan keringanan pembayaran dibandingkan dengan Pertamina.
Konsumen AKR bisa membayar jasa distribusi 20-25 hari setelah barang dikirim, sedangkan Pertamina mensyaratkan pembayaran satu pekan di muka.
Kabar terbaru, mereka berhasil merebut kontrak penyediaan high speed diesel [HSD] di PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) unit Tanjung Batu, Samarinda dan Siantan, Pontianak selama tiga tahun.
Padahal sebelumnya, proyek penyediaan diesel PLN sebesar 150.000 kiloliter itu selalu dimonopoli Pertamina.
Nilai kontrak penyediaan itu berkisar US$110 juta-US$120 juta per tahun sehingga kalau diinterpolasi selama tiga tahun bisa mencapai US$360 juta.
AKR juga tercatat memiliki fasilitas kredit 60 hari dari Chevron dan Trafigura yang bertindak sebagai pemasok BBM. Fasilitas kredit tersebut memungkinkan perseroan menjaga posisi likuiditas lebih baik.
Investasi jaringan
Di tengah tingginya harga minyak dunia, perseroan giat berinvestasi meningkatkan kapasitas produksi. Pada akhir 2008, kapasitas distribusi ditargetkan 250.000 kiloliter dan naik menjadi 500.000 pada akhir 2009 setelah proyek JTT tahap I selesai.
Selama 2008, perseroan menyelesaikan tiga proyek terminal, yakni di Stagen Kalimantan berkapasitas 50.000 kiloliter, di Lampung berkapasitas 14.000 kiloliter, dan stasiun pengisian di pelabuhan Anggada (Medan) berkapasitas 6.000 kiloliter.
Di luar itu, perseroan berupaya menyelesaikan Jakarta Tank Terminal (JTT) yang nantinya beroperasi dengan kapasitas 450.000 kiloliter. Proyek ini merupakan kerja sama AKR dengan Royal Vopak dari Belanda dengan porsi kepemilikan 51:49.
Proyek senilai US$130 juta ini akan dibiayai melalui utang dan ekuitas dengan rasio 60:40.
"Kami masih memfinalisasi pendanaan senilai US$78 juta dari total kebutuhan pendanaan US$130 juta melalui pinjaman bank," tutur Sekretaris Perusahaan AKR Suresh Vambu.
Proyek yang dibangun di atas lahan seluas 15,5 hektare di Tanjung Priok ini akan menjadi terminal tangki petroleum terbesar di Jakarta.
Pembangunan tahap I direncanakan selesai pada triwulan IV/2009 dengan kapasitas 250.000 kiloliter, dan tahap II dengan kapasitas 200.000 kiloliter direncanakan selesai pada 2011.
"Kami mengestimasikan pendapatan AKR dari proyek JTT tahap I dan II mencapai US$19-22 juta per tahun," tulis tim riset Asia Kapitalindo.
Target harga
Berdasarkan perkembangan itu, Asia Kapitalindo menetapkan target harga AKRA senilai Rp1.650 dengan metode arus kas diskonto dan asumsi biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) 9,2%, tingkat pajak 30%, dan risiko premium 8%.
"Dengan demikian masih terdapat potensi kenaikan sebesar 33%," ujar ketiga analis tersebut.
Terpisah, analis CIMB-GK Securities Rumaida Utami menargetkan harga saham AKRA di pasar senilai Rp1.450 yang merepresentasikan WACC 11,7% mengimplikasikan laba inti 2008-2009 sebesar 13,8 kali dan 10,3 kali.
Target tersebut ditetapkan dengan memperhitungkan pengembalian dari ekuitas [ROE] di atas 20%, dan ekspansi berkelanjutan sektor manufakturnya melalui Sorini serta bisnis logistik.
Target tersebut juga memperhitungkan ekspansi perseroan dengan membangun lima pelabuhan sungai di Guinggang (China) yang merupakan pelabuhan sungai terbesar ke-13 di negeri tersebut.
Pelabuhan itu menjalani tahap modernisasi yang diperkirakan selesai pada 2011. (arif.gunawan@bisnis.co.id)
Oleh Arif Gunawan S.
Wartawan Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- REKOMENDASI
Panin Sekuritas: - REKOMENDASI
Optima Securities: - REKOMENDASI
Millenium Danatama: - REKOMENDASI
Indosurya Securities: - Tugu Pratama lepas 30% saham ke pasar tahun ini