Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 05/09/2008

Transaksi ORI005 di pasar sekunder Rp365 miliar

JAKARTA: Total transaksi obligasi negara ritel 005 pada perdagangan perdana di pasar sekunder mencapai Rp365 miliar dari total yang dicatatkan Rp2,71 triliun, meski harga turun tipis dari 100,25 pada pembukaan menjadi 100,16 pada penu-tupan perdagangan.

Direktur Fixed Income dan Perdagangan Derivatif, Keanggotaan, dan Partisipan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) T. Guntur Pasaribu mengatakan pihaknya menargetkan perdagangan obligasi negara ritel secara keseluruhan di pasar sekunder akan bertambah sebesar 10% pasca pencatatan ORI005.

Saat ini, berdasarkan pencatatan CTP BEI, rata-rata perdagangan harian ORI di pasar sekunder per 30 Juli 2008 mencapai Rp252,96 miliar per hari dan diharapkan dapat meningkat menjadi Rp278,25 miliar per hari.

"Proyeksi itu berdasarkan data historis ketika ORI004 masuk ke pasar sekunder," ujarnya pada perdagangan perdana di pasar sekunder kemarin.

Menurutnya, saat ini merupakan waktu yang tepat bagi institusi untuk masuk ke pasar sekunder karena sangat prospektif. "Untuk institusi seperti asuransi dan dana pensiun, sekaranglah saatnya untuk membeli daripada asing masuk ke instrumen ini."

Guntur mengatakan ORI seri lain mengalami penguatan tipis dibandingkan dengan akhir pekan lalu, seperti ORI004 yang menguat sebesar 43 basis poin dari 93,80% menjadi 94,23%.

Sukuk ritel


Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto mengatakan selain mengembangkan ORI, pemerintah berencana akan meluncurkan sukuk ritel semester I tahun depan sebagai upaya menambal defisit negara.

Dia menjelaskan pihaknya masih merancang bentuk teknis dari instrumen syariah seperti bentuk pembayaran kupon ataupun cara pemesanan dalam penerbitannya.

Pemerintah, lanjutnya, masih menjajaki kemungkinan untuk menggunakan kupon bulanan, semesteran, dan amortisasi untuk sukuk tersebut. Pemesanan instrumen itu juga masih dibahas kemungkinan untuk book building atau pemesanan biasa.

Dalam penerbitan sukuk ritel itu, pemerintah dapat menggunakan aset penjamin (underlying asset) yang sama seperti jaminan sukuk tahun ini apabila masih ada sisa dari total Rp18,3 triliun. Aset itu terdiri dari gedung dan tanah dari Departemen Keuangan atau aset kementerian dan lembaga lain.

Dia mengatakan kepemilikan asing di SUN naik drastis dari Rp78,16 triliun pada akhir 2007 menjadi Rp108,05 triliun per 2 September 2008.

Artinya, selama periode Desember 2007 hingga September 2008, kepemilikan asing bertambah Rp29,89 triliun atau tumbuh 38,24%. Padahal pertumbuhan jumlah SUN yang diterbitkan pemerintah hanya 11,83% menjadi Rp534,29 triliun pada 2 September 2008. Akhir 2007, jumlah SUN masih Rp477,75 triliun.

Menurut dia, meningkatnya kepemilikan asing menunjukkan bertambahnya kepercayaan pemodal terhadap perekonomian Indonesia dalam jangka panjang.

Rahmat menambahkan pemerintah tidak mengkhawatirkan porsi kepemilikan asing di surat utang negara saat ini yang berkisar pada 20,22% karena jumlah tersebut sudah proporsional. (21/Rahayuningsih) (redaksi@bisnis.co.id)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • PREDIKSI
    Indeks dibayangi koreksi saham bank
  • Qtel tender offer Indosat
    pekan ketiga Januari
  • Suspensi Sarijaya
    berpotensi diperpanjang
  • Divestasi Semen Kupang batal