Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 06/09/2008

BI minta bank tidak umbar kredit

JAKARTA: Bank Indonesia kembali mengingatkan industri perbankan agar tidak terlalu ambisius dalam mengucurkan kredit baru, menyusul pertumbuhan dana pihak ketiga pada Juli melambat yakni sekitar 11%.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Muliaman D. Hadad mengatakan industri perbankan saat ini dihadapkan pada dua pilihan, yakni mengejar kredit baru atau hanya memenuhi komitmen kredit sebelumnya, untuk menyesuaikan kebutuhan likuiditas.

"Sekarang bank dihadapkan dengan pilihan. Apakah demand terhadap kredit sudah tinggi atau kredit yang sudah dikomitmenkan sejak lama. Itu membutuhkan likuiditas," paparnya di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan kondisi saat ini memang agak ketat, karena pertumbuhan kredit tinggi sementara dana masyarakat tumbuh, sehingga ada kebutuhan untuk meningkatkan likuiditas. "Jadi, terlepas dari kenaikan BI Rate, sinyal kebutuhan likuiditas sudah ada."

Tingginya pertumbuhan kredit yang mencapai 35% per Agustus 2008 (year-on-year) tidak hanya bersumber dari permintaan kredit baru, tetapi juga kredit yang telah dikomitmenkan bank dengan debitor sejak lama, sehingga pertumbuhan likuiditas belum bisa menutup lonjakan kredit.

Perlambatan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) masih terus berlangsung hingga Juli yang hanya naik sekitar 11%. Angka itu lebih rendah dari pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang mencapai 14%.

Oleh sebab itu, rasio penyaluran kredit dibandingkan dengan DPK (loan to deposit ration/LDR) mencapai 78%-79%.

Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Halim Alamsyah mengatakan ada tiga hal yang menyebabkan perlambatan pertumbuhan DPK.  Pertama, perubahan selera nasabah dari produk konvensional seperti deposito, ke produk unit linked atau reksa dana yang menjanjikan imbal hasil lebih tinggi.

Kedua, penyerapan belanja pemerintah yang belum optimal. Ketiga, lonjakan permintaan domestik dalam perekonomian dalam negeri menuntut ketersediaan likuiditas.  

"Bank masih punya ruang untuk menghimpun dana untuk membiayai kreditnya, asalkan kreatif. Tapi sekali lagi, bank harus melihat, jangan sampai rencana pemberian kreditnya terlalu ambisius," tegasnya.

Menurut dia, ada sebagian bank yang saat ini memiliki target penyaluran kredit terlampau tinggi sehingga perlu ditinjau kembali sesuai dengan kemampuan bank bersangkutan dalam menggalang dana. BI juga melihat adanya distorsi distribusi likuiditas di antara bank-bank.

  "Ini yang jadi masalah. Ada bank yang [likuiditasnya] masih banyak, ada yang kering. Maksudnya, ada tanda-tanda kalau bank itu tak bisa kendalikan kreditnya, dia harus pinjam dari luar atau antarbank. Kami tidak ingin itu terjadi, bisnis harus dilihat dari kapasitasnya," paparnya.

Menanggapi imbauan BI, Wakil Presdir BCA Jahja Setiaatmadja menyatakan pihaknya memang tengah membatasi pemberian kredit baru.  Hingga akhir Mei,  bank dengan aset terbesar kedua itu telah memberikan komitmen kredit   Rp120 triliun dan sebagian tinggal menunggu pencairan

Senada dengan Jahja, Dirut Bank Negara Indonesia Gatot Suwondo mengatakan pertumbuhan kredit semester I/2008 yang telah mencapai 27% telah mendekati target kredit sepanjang 2008. "Oleh karena itu, kami akan slow down untuk semester II," ujarnya. (11) (redaksi@bisnis.co.id)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • PREDIKSI
    Indeks dibayangi koreksi saham bank
  • Qtel tender offer Indosat
    pekan ketiga Januari
  • Suspensi Sarijaya
    berpotensi diperpanjang
  • Divestasi Semen Kupang batal