Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Senin, 06/10/2008
NAB reksa dana terproteksi berpotensi lampaui saham
JAKARTA: Nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana terproteksi berpotensi melampui reksa dana saham hingga akhir tahun, akibat kondisi pasar modal yang belum pulih.
Saat ini, NAB reksa dana terproteksi sudah mencapai Rp25,04 triliun yang mendekati dana kelolaan reksa dana saham sebesar Rp27,52 triliun, sedangkan jumlah unit dan jumlah produk reksa dana terproteksi berkembang pesat dibandingkan dengan reksa dana saham.
Dalam data Bapepam-LK diketahui reksa dana saham memiliki 12,48 miliar unit dengan 60 produk, sementara reksa dana terproteksi mencapai 25,13 miliar unit dengan 147 produk.
"Saya tidak yakin investor akan bertahan di [reksa dana] saham apabila pasar modal belum membaik seperti sekarang ini," ujar Presiden Direktur PT First State Investments Indonesia Legowo Kusumonegoro kepada Bisnis, pekan lalu.
Dia menjelaskan jumlah NAB reksa dana saham yang berkurang masih tertahan oleh rendahnya nilai penarikan dana (redemption) yang dapat dilihat dari jumlah unitnya.
Secara terpisah, Direktur PT Mandiri Manajemen Investasi Andreas M. Gunawidjaja menilai kesempatan NAB reksa dana terproteksi menyalip dana kelolaan reksa dana saham masih ada, tetapi investor reksa dana saham tidak serta-merta menarik dana mereka dari investasi itu.
Kepala Biro Pengelolaan Investasi Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Djoko Hendratto mengatakan penyalipan NAB itu dapat terjadi.
"Di tengah kondisi [pasar modal] seperti ini, potensi [penyalipan NAB reksa dana terproteksi dibandingkan dengan reksa dana saham] itu memang selalu ada, tetapi detailnya saya belum dapat jelaskan karena sedang tidak melihat data."
Risiko rendah
Direktur PT Bahana TCW Investment Management Edward Parlindungan Lubis menilai kecendrungan pemodal memilih reksa dana terproteksi dibandingkan dengan reksa dana saham dikarenakan risiko yang rendah.
Koreksi indeks harga saham gabungan sebesar 14,77% sepanjang September turut menggerogoti nilai aktiva bersih reksa dana exchange traded fund (ETF) sebesar 18,31%.
Dana kelolaan produk reksa dana yang bisa diperdagangkan di pasar itu akhir pekan lalu tercatat sebesar Rp382 miliar, atau menyusut dibandingkan dengan posisi akhir Agustus sebesar Rp452 miliar.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan koreksi ETF dari PT Indopremire Securities itu melampaui indeks LQ45 yang menjadi acuannya, yang pada kurun waktu sama hanya terkoreksi 17%.
Analis PT Infovesta Utama Rudiyanto menduga penurunan harga saham di bursa Indonesia sepanjang bulan ini menjadi penyebab utama penurunan investasi produk tersebut. Data BEI menyebutkan portofolio terbesar ETF LQ-45 ditanam di saham PT Bakrie & Brothers (BNBR). (21) (arif.gunawan@bisnis.co.id)
Oleh Arif Gunawan S.
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- REKOMENDASI
Panin Sekuritas: - REKOMENDASI
Optima Securities: - REKOMENDASI
Millenium Danatama: - REKOMENDASI
Indosurya Securities: - Tugu Pratama lepas 30% saham ke pasar tahun ini