Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 08/10/2008

PREDIKSI
Kenaikan BI Rate masih tekan indeks

JAKARTA: Iklim ketidakpastian yang masih menggelayuti bursa saham akibat krisis subprime mortgage loan diperkirakan membuat pemodal memilih menjaga jarak lebih dulu dari pasar modal.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia diperkirakan masih tertekan, terlebih setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan BI Rate menjadi 9,5% untuk meredam laju inflasi.

Analis PT Sinarmas Sekuritas Alfiansyah mengatakan kenaikan suku bunga kunci tersebut memang diperlukan untuk memperlemah inflasi yang berpotensi naik menjadi 12% pada akhir tahun ini.

"Namun, kebijakan tersebut berkorelasi negatif terhadap pasar modal. Kenaikan suku bunga membuat iklim investasi bursa saham menjadi negatif karena pemodal akan memilih memperbanyak alokasi investasi ke deposito," tuturnya kemarin.

Di luar negeri, pemodal global diperkirakan masih memilih mencairkan dananya dari portofolio di berbagai negara karena belum adanya kejelasan sektor finansial dan perekonomian dunia.

Sejauh ini, tuturnya, Pemerintah Amerika Serikat (AS) berencana mengucurkan dana US$700 miliar dari kebutuhan penanganan krisis subprime mortgage yang diperkirakan menyedot triliunan dolar AS.

Pada perdagangan kemarin, IHSG melemah 29 poin (1,76%) menjadi 1.619,72, menyimpang dari perge-rakan sebagian bursa saham Asia yang mulai menguat.

Indeks Kospi tercatat naik 0,82%, Strait Times Si-ngapura naik 0,65%, dan Taiwan naik 0,34%. Namun, indeks saham Nikkei dan Shanghai masih melemah 3,03% dan 0,73%.

Bursa mencatat transaksi 65.727 kali senilai Rp3,2 triliun dengan 52 saham naik, 122 saham turun dan 36 saham stagnan.

Alfiansyah menilai pelaku pasar masih menunggu momentum kebangkitan (rebound) indeks yang sampai sekarang belum bisa diukur. "Dalam kondisi saat ini, pasar yang diperkirakan memasuki momentum time to buy ternyata masih melanjutkan koreksi," ujarnya.

Di sisi lain, pemodal asing yang biasanya menjadi penggerak perdagangan masih memilih berhati-hati berinvestasi portofolio.

Saham yang harganya menurun pada perdagangan kemarin antara lain PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII) melemah Rp10 menjadi Rp425, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) turun Rp200 menjadi Rp7.000, dan PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO) turun Rp50 menjadi Rp2.575.

Sebaliknya, saham yang harganya menguat antara lain saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) naik Rp50 menjadi Rp7.150, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik Rp100 menjadi Rp1.160, dan PT Timah Tbk (TINS) naik Rp140 menjadi Rp1.280.

Oleh Arif Gunawan S.
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Qtel tender offer Indosat pekan ketiga Januari
  • Keputusan Venezuela hangatkan minyak
  • REKOMENDASI
  • Akuisisi Bumi tergolong material
    Pemilik Fajar Sakti dan Pendopo adalah Grup Bakrie