Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 08/10/2008
Rupiah tertolong kenaikan BI Rate
JAKARTA: Nilai tukar rupiah menguat setelah sempat terpeleset ke level terendahnya dalam hampir tiga tahun terakhir terhadap dolar AS setelah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 9,5%.
Rupiah sempat terdepresiasi tajam dalam dua hari terakhir setelah indeks Nikkei 225 Stock Average dan Dow Jones Industrial Average juga jatuh di bawah 10.000 untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir.
Keputusan BI menaikkan suku bunga acuan sebagai respons atas pergerakan kurs rupiah dan inflasi sedikit menolong nilai tukar rupiah. Pada pukul 17.07 WIB, rupiah diperdagangkan pada level Rp9.570 per dolar AS.
Pada pukul 15.30 WIB, rupiah melemah pada level Rp9.623 per dolar AS. Sejak awal bulan ini ketika rupiah masih pada kisaran Rp9.477 per dolar, mata uang lokal ini sudah terhempas 1,54%.
Gubernur Bank Indonesia Boediono mengatakan kebijakan stabilisasi rupiah diharapkan dapat menghindari volatilitas nilai tukar mata uang domestik yang terlalu tajam.
"Setelah mencermati dengan saksama perkembangan keuangan global dan meneliti perkembangan di dalam negeri termasuk permintaan domestik, neraca pembayaran serta khususnya sektor perbankan maka Bank Indonesia menaikkan kembali BI Rate sebesar 0,25%," katanya dalam konferensi pers di Jakarta, kemarin.
BI melakukan intervensi untuk mendorong rupiah dengan membeli atau menjual mata uang asing. Cadangan mata uang Indonesia sebesar US$56,8 miliar pada 12 September, turun dari sebelumnya US$60,6 miliar pada akhir Juli.
Panji Irawan, Sekretaris Jenderal Association Cambiste Internationale (ACI) Forexindo sekaligus analis valas, mengatakan sepanjang bulan ini rupiah masih mengikuti kondisi pasar internasional. Depresiasi tajam yang hanya sesaat, menurutnya, akibat pelaku short selling.
"Rupiah masih inline dengan pasar global. Banyak pemilik portofolio asing mengalihkan asetnya karena panik dengan krisis keuangan AS," katanya kepada Bisnis. Dia menilai larangan short selling sangat tepat.
Kurang mujarab
Namun, Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Tony Prasentiantono menilai langkah BI itu relatif terlambat. Upaya untuk meredam volatilitas rupiah dengan menaikkan bunga BI Rate dinilai kurang mujarab.
Dia menjelaskan volatilitas nilai tukar rupiah merupakan akumulasi dari libur panjang. Dia menilai sebaiknya bank sentral bisa mengantisipasi hal itu jauh hari sehingga tidak terjadi pelemahan rupiah yang begitu besar.
"BI terlambat merespons gejolak yang terjadi di pasar keuangan global, karena libur panjang lalu. Jadi, kondisi sekarang merupakan akumulasi masalah selama satu pekan," katanya.
Menurut dia, apabila ada antisipasi pelemahan rupiah pada saat liburan, depresiasi nilai tukar mata uang itu terhadap dolar AS tidak akan begitu besar. "Namun, bagaimana lagi pekan lalu BI sudah libur selama satu minggu. Jadi, pelemahan nilai tukar sulit dibendung lagi," paparnya.
Pengamat Pasar Keuangan Farial Anwar berpendapat serupa. Dia memperkirakan kenaikan BI Rate tidak akan mampu mengendalikan pergerakan rupiah karena pelaku pasar tidak lagi tertarik suku bunga tinggi akibat terjadi kepanikan di pasar keuangan, terutama pasar modal.
Investor luar negeri menjual lebih banyak saham daripada membelinya ketika indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia dua hari lalu turun 10,03% akibat aksi jual yang tertunda selama liburan. Indeks Morgan Stanley Capital (MSCI) longsor 9,8% pekan ini dan melemah 2% kemarin. (11/17/ 23) (redaksi@bisnis.co.id)
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- REKOMENDASI
Panin Sekuritas: - REKOMENDASI
Optima Securities: - REKOMENDASI
Millenium Danatama: - REKOMENDASI
Indosurya Securities: - Tugu Pratama lepas 30% saham ke pasar tahun ini