Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 10/10/2008

PREDIKSI
Potensi kebangkitan indeks masih terancam

JAKARTA: Aksi beli para investor diperkirakan terjadi menyambut pembukaan pasar pada hari ini seiring dengan harga saham yang melemah. Namun, tekanan yang menimpa saham-saham unggulan masih mempersulit reposisi bursa.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak pada tren penguatan, tetapi dalam pergerakan terbatas karena sentimen negatif yang menaungi emiten utama, seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Analis PT Finansial Bisnis Informasi Reza Priyambada mengatakan secara teknis saham-saham di bursa efek sudah berada pada level diskon, dan seharusnya sudah mengundang aksi pembelian sejak Senin pekan ini.

"Potensi kenaikan harga saham terbuka lebar pada pembukaan pasar pasca pembekuan. Namun, indeks sulit menguat 10% dalam sehari, karena saham grup Bakrie sulit dikembalikan ke level normal dalam sehari," tuturnya kemarin.

Menurut catatan Bisnis, saham TLKM kemarin terkoreksi di bursa New York, yang menciptakan kekhawatiran akan mengundang fenomena serupa di pasar Indonesia.

Saham BUMI diperkirakan sulit mencapai posisi tertingginya pada 12 Juni sebesar Rp8.550 mengingat koreksi terakhir diwarnai dengan gagal bayar (default) broker.

"Saham grup Bakrie harus diperhatikan, karena porsi mereka yang dominan di pasar. Jika harga saham turun, nilai aset mereka turun sehingga membuka potensi gagal bayar," ujar Reza.

Melihat faktor tersebut, dia memperkirakan indeks hanya berpotensi menguat menuju kisaran 1.500, dan kemungkinan berpusar di level psikologis tersebut.

Mereda


Reza menambahkan kepanikan pelaku pasar seharusnya sudah mereda mengingat bursa regional sudah menguat. Indeks Morgan Stanley Capital (MSCI) tercatat menguat 1% ke level 92,33, setelah sebelumnya anjlok 7,4%.

Bursa Hang Seng menguat 3,3%, bersamaan dengan bursa Singapura yang naik 3,4% dan bursa Korea Selatan sebesar 0,64%. Namun, bursa Nikkei melemah 0,5%, Malaysia turun 0,13%, dan Taiwan turun 1,45%.

"Koreksi pada Rabu itu karena investor asing melepas saham besar-besaran, yang membuat investor dalam negeri menjadi panik dan bertransaksi secara irasional," ujarnya.

Irasionalitas investor tersebut, lanjutnya, diperparah sentimen inflasi tinggi per September sebesar 0,97%, dan kenaikan BI Rate 50 basis poin menjadi 9,5%.

Dia menilai kebijakan suspensi yang dilakukan BEI itu terhitung terlambat.

"Ketika sudah ada indikasi turun, seharusnya sudah diantisipasi dengan kebijakan itu. Kenapa menunggu jatuh dulu?" tuturnya.

Oleh Arif Gunawan S.
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Qtel tender offer Indosat pekan ketiga Januari
  • Keputusan Venezuela hangatkan minyak
  • REKOMENDASI
  • Akuisisi Bumi tergolong material
    Pemilik Fajar Sakti dan Pendopo adalah Grup Bakrie