Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 10/10/2008
Saham Telkom di New York jatuh 20,28%
JAKARTA: Harga saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) yang tercatat di New York Stock Exchange (NYSE) pada 8 Oktober ditutup anjlok 20,28% ke posisi US$22,72.
Penurunan itu, yang merupakan terbesar dalam sehari pada tahun ini, merupakan dampak negatif dari penghentian sementara (suspend) seluruh saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjelang penutupan sesi I perdagangan saham dua hari lalu.
"Pemodal asing yang ingin keluar dari saham Telkom langsung menjual sahamnya yang di New York karena bursa saham di Indonesia dihentikan sementara. Penurunan terbesar saham Telkom di New York itu sangat memengaruhi harga saham yang tercatat di Indonesia," ujar Norico Gaman, Head of Research PT BNI Securities, kepada Bisnis kemarin.
Saham Telkom tercatat di NYSE dalam bentuk American depository receipt (ADR). 1 ADR setara dengan 40 saham, sehingga harga penutupan di AS US$22,72 setara dengan Rp5.450.
Harga penutupan di NYSE itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga penutupan saham Telkom di BEI yang ditutup ke posisi Rp6.450, anjlok 9,79% dari penutupan hari sebelumnya.
Menurut Norico, penurunan saham Telkom di NYSE itu akan menyesuaikan harga saham BUMN itu di Indonesia, sehingga berpotensi menimbulkan koreksi.
Apabila itu terjadi, tuturnya, penyesuaian saham Telkom di BEI bisa menyeret turun indeks harga saham gabungan (IHSG) yang rencananya dibuka hari ini. Hingga pukul 21:40 WIB, saham Telkom di NYSE rebound 6,82%.
Chief Financial Officer Telkom Sudiro Asno mengatakan krisis keuangan di AS menjadi penyebab anjloknya harga saham Telkom itu.
"Kami tegaskan hal ini tidak ada hubungan dengan fundamental perusahaan. Namun, manajemen tetap akan berusaha memperbaiki kinerja perusahaan secara terus-menerus, termasuk dengan meneruskan rencana buyback," ujarnya, melalui sambungan telepon dari Beijing, kemarin.
Dia juga menuturkan perseroan berencana memperkuat posisi kas internal, terkait dengan cost of money yang dinilai akan menjadi lebih mahal.
Sebelum bursa saham disetop dua hari lalu, saham Telkom dan PT Indosat Tbk merupakan penyumbang penurunan IHSG terbesar.
Berdasarkan data Bloomberg, saham Telkom mempunyai bobot terbesar yaitu 11,72% terhadap IHSG. Artinya, kenaikan atau penurunan saham BUMN telekomunikasi terbesar itu bisa membuat IHSG naik atau anjlok secara signifikan. "Penyesuaian harga saham TLKM berpotensi menyeret IHSG lebih rendah," katanya.
Norico memperkirakan potensi koreksi saham Telkom bisa menekan IHSG turun ke posisi 1.300 dari posisi terakhir 1.451,67 setelah terjun bebas 168,05 poin atau 10,4%.
Harga saham Indosat di NYSE pada penutupan 8 Oktober juga terkoreksi 8,19% ke posisi US$21,18.
Namun, ujarnya, pengaruh penurunan saham Indosat relatif kecil, sehingga tidak memengaruhi pergerakan IHSG.
"Kalau harga Telkom besok [hari ini] turun, hal itu bisa memicu sentimen negatif terhadap saham sektor infrastruktur lainnya, terutama yang bergerak di sektor telekomunikasi."
Bobot terbesar
Saham di sektor telekomunikasi, katanya, mempunyai bobot yang terbesar selain saham di sektor perbankan dan pertambangan.
Pergerakan pasar saat ini, lanjutnya, didominasi persepsi, meskipun fundamental ekonomi dan keuangan perusahaan masih bagus. Persepsi itu berasal dari sentimen negatif krisis finansial global, sehingga bisa membuat investor emosional. Kondisi itu bisa membuat pergerakan saham irasional.
Ari Pitoyo, Head of Research PT Mandiri Sekuritas, berpendapat lain. Menurut dia, belum tentu saham Telkom di Indonesia menyesuaikan dengan harga penutupan pada 8 Oktober.
"Sepertinya harus menunggu harga saham Telkom nanti [kemarin malam] karena pasar di luar negeri cenderung rebound. Jika itu terjadi, saham Telkom di Indonesia bisa menyesuaikan di AS yang diperkirakan naik lagi setelah terkoreksi dalam," ujarnya.
Laba bersih konsolidasi Telkom pada semester I 2008 turun 4,94% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp6,62 triliun menjadi Rp6,29 triliun. (Sylviana Pravita R.K.N.) (wisnu.wijaya@bisnis.co.id)
Oleh Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- REKOMENDASI
Panin Sekuritas: - REKOMENDASI
Optima Securities: - REKOMENDASI
Millenium Danatama: - REKOMENDASI
Indosurya Securities: - Tugu Pratama lepas 30% saham ke pasar tahun ini