Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Bursa
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Sabtu, 11/10/2008
Tundukkan irasionalitas agar survive di bursa
"Mana yang lebih buruk, krisis sekarang ini atau 1998?" tanya Miswar (bukan nama asli) kepada saya ketika bertandang ke salah satu galeri sebuah perusahaan sekuritas di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin.
Menurut dia, krisis sekarang ini jauh lebih parah dibandingkan dengan satu dekade yang lalu. Dia mengibaratkannya dengan kondisi seorang istri yang menghadapi beban berat karena suaminya sakit, tetangga, dan dokter tempat dimintai pertolongan juga sakit. Lalu ke mana harus meminta pertolongan?
Inilah yang terjadi sekarang. Pasar modal Indonesia jatuh, begitu juga dengan bursa regional, AS, dan Eropa. Krisis yang sama terjadi di tatanan global, bukan hanya di tingkat domestik sebagaimana terjadi pada 1997-1998 ketika Indonesia terseret gejolak bursa dan mata uang baht Thailand.
"Nikkei anjlok 9%, Dow Jones 7%. Gila!" teriak Miswar saat menyaksikan running text layar televisi asing. Pria yang diperkirakan berusia di atas 50 tahun itu tampak gelisah. Dia terus berdiri mengamati saya yang sedang mengobrol dengan pemodal lain yang ada di ruangan itu. Namun, dia menarik diri untuk ikut terlibat langsung, hanya sesekali menimpali dengan nada bicara yang keras dan ketus.
Dari pemodal lain saya tahu Miswar banyak merugi akibat kejatuhan harga saham dalam portofolionya. Baru sekitar 2 tahun yang lalu dia mencoba peruntungan lewat investasi saham. Kali ini, dia merugi tersangkut transaksi margin. Dia juga dikabarkan memegang duit milik sejumlah orang yang telah memercayakannya untuk diinvestasikan ke saham. Inilah yang belakangan ditengarai membuatnya irasional.
Transaksi margin memungkinkan pemodal membeli saham dengan modal yang lebih kecil dari nilai deposit setorannya, sebagian lainnya akan ditalangi oleh perusahaan sekuritas. Dengan begitu pemodal akan untung jauh lebih besar dan begitu pula sebaliknya. Jika harga saham turun signifikan, sekuritas akan langsung turun tangan mengeksekusi aset pemodal atau dikenal dengan menjual paksa (forced sell).
Lain yang terjadi pada Dung Harnas. Meski nilai investasinya kini tinggal 15%, dia terlihat tetap tenang dan masih bisa tersenyum dan guyon. "Buat apa stress, orang terlahir tidak pakai celana. Harta hilang bukan persoalan besar," ujarnya.
Ketika saya tanya resep bertahan dari tekanan ini, dengan sederhana dia menjawab: pengalaman. Dia mengaku nilai investasinya pernah minus pada saat krisis moneter melanda 10 tahun yang lalu. Jadi, masih lumayan kalau sekarang nilai investasi masih tersisa 15%.
Dia mengaku telah menjual rumah dan seluruh perhiasan emas untuk modal investasi saham, dengan persetujuan istri. Pekerjaannya pun setiap hari, dari Senin sampai Jumat, lebih banyak duduk mengamati pergerakan harga saham di monitor komputer di galeri sekuritas.
Meski nilai investasinya tergerus, Dung Harnas yakin harga saham akan berbalik naik karena fundamental emiten di pasar modal Indonesia masih bagus. Berbeda dengan di AS, yang memang sedang keropos digerogoti kredit dan investasi bermasalah.
Banjar, pemodal lain yang saya temui, juga tetap tenang meski mengaku telah merugi sekitar Rp500 juta. Bagi dia, selalu ada dua sisi di pasar modal yang membedakan pemodal yang berpandangan investasi jangka panjang dengan jangka pendek. Pemodal jangka panjang akan lebih tenang menghadapi gejolak di bursa, berkebalikan dengan pemodal jangka pendek.
Cenderung gegabah
Sikap irasional memang dialami sebagian pemodal ritel di tengah tekanan bursa. Sikap irasional membuat orang panik, kalut, dan cenderung gegabah dalam mengambil keputusan investasi.
Itulah yang diduga Direktur Utama BEI Erry Firmansyah memicu indeks harga saham gabungan anjlok lebih dari 10% pada Rabu, sehingga dia memutuskan untuk menutup kegiatan perdagangan efek terkait dengan saham dan derivatif mulai pukul 11.06 WIB.
Bursa batal dibuka kemarin pagi, meski Menkeu & Plt. Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati pada malam sebelumnya telah memberikan restu untuk membuka kembali perdagangan saham. Penutupan bursa ini berlangsung hingga sore.
Lagi-lagi keputusan yang mengejutkan. Untuk mengumumkan alasan penutupan lebih jauh pada sesi I atau sesi perdagangan pagi kemarin, Erry hanya mendampingi Ahmad Fuad Rahmany, ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan.
"Situasi regional pagi ini [kemarin] jauh lebih buruk dibandingkan dengan sebelumnya [Rabu pagi] sehingga kami memutuskan untuk menutup perdagangan sesi pertama," jelas Fuad.
Bursa di berbagai negara seperti Rusia, Thailand, Jepang, dan Hong Kong juga menutup perdagangannya. Di bursa domestik langkah penutupan ini diharapkan menenangkan pemodal dan menjauhkannya dari sikap irasional. Kita berharap pasar keuangan segera pulih dari krisis ini. (pudji.lestari@bisnis.co.id)
Oleh Pudji Lestari
Wartawan Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- REKOMENDASI
Panin Sekuritas: - REKOMENDASI
Optima Securities: - REKOMENDASI
Millenium Danatama: - REKOMENDASI
Indosurya Securities: - Tugu Pratama lepas 30% saham ke pasar tahun ini