Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ekonomi Global


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 18/07/2008

Kepercayaan pada perekonomian kian rapuh

PARIS: Tingkat kepercayaan masyarakat pada perekonomian global anjlok pada bulan ini akibat lonjakan harga minyak yang sempat bertengger di atas US$147 per barel dan tekanan krisis keuangan.

Bloomberg Professional Global Confidence Index, indeks yang mengukur tingkat kepercayaan warga di enam benua, anjlok menjadi 10,3 pada bulan ini dari 21 pada Juni karena turunnya sentimen terhadap perekonomian AS, Jerman, Jepang, Prancis, dan Inggris.

Angka itu merupakan level terendah sejak survei pertama dilakukan pada November 2007.  Berdasarkan indeks kepercayaan itu, kelompok masyarakat di Asia dinilai paling tidak optimistis terhadap prospek perekonomian dunia, menggantikan Eropa Barat pada November.

"Kita mulai mendekati masa penurunan kepercayaan ketika harga minyak benar-benar memengaruhi perekonomian dunia. Kita kian pesimistis," kata Nick Kounis, ekonom Fortis Bank NV di Amsterdam yang berpartisipasi dalam survei Bloomberg itu, kemarin.

Harga minyak naik hampir dua kali lipat dalam satu tahun terakhir mencapai di atas US$147 per barel pada pekan lalu. Rekor harga minyak itu makin mengganggu daya beli konsumen dan perusahaan, serta mempercepat laju inflasi sehingga memaksa sebagian besar bank sentral di dunia untuk menaikkan suku bunga.

Akibat resesi kredit perumahan di AS, yang mengurangi tingkat kepercayaan warga pada institusi keuangan seperti Fannie Mae dan Freddie Mac, saham global turut terjerembap ke bear market.

Survei itu dilakukan pada 7-11 Juli dengan melibatkan 5.450 responden yang berasal dari pengguna Bloomberg dari Tokyo hingga New York. Survei itu juga mengemas beberapa pertanyaan di antaranya obligasi, nilai tukar, saham, dan suku bunga pada semester II/2008.

Asia turun

Indeks kepercayaan Asia terhadap perekonomian dunia turun menjadi 7 dari 19,4.  Responden di Jepang memandang perekonomian terbesar kedua di dunia itu berada pada kondisi yang lebih parah dibandingkan dengan satu bulan lalu dan memprediksi saham Tokyo rontok pada paruh kedua tahun ini.

Responden di negeri Adidaya memprediksi dolar AS akan terus melemah di bawah US$1,60 per euro. Responden di Spanyol paling pesimistis mengenai ekonomi mereka, hanya responden  di Brasil yang tetap percaya diri.

Gejolak perumahan AS tahun lalu memicu krisis pasar kredit yang masih mengganggu perekonomian global. Suku bunga yang lebih tinggi menyebabkan ekspansi kredit berbasis perumahan tumbang di AS dan Eropa. Industri perbankan juga membukukan kerugian dan menurunkan nilai aset  lebih dari US$415 miliar.

Krisis pasar saham bertambah buruk dalam satu pekan terakhir di tengah kekhawatiran pada kondisi Fannie Mae dan Freddie Mac.

Bursa MSCI World Index telah anjlok lebih dari 20% sejak rekor Oktober dan dua hari lalu turun ke level terendah dalam dua tahun terakhir.

Tingkat optimisme investor, analis, dan trader di AS mengenai pertumbuhan ekonomi berkurang pada Juni. Indeks kepercayaan AS turun menjadi 8,8, posisi terendah sejak Maret yang masih 16,1.

Responden Eropa paling khawatir mengenai prospek perekonomian mereka sejak survei pada November dan indeks kepercayaan regional anjlok menjadi 15,5 dari 22,3. Perekonomian 15 negara pengguna euro itu telah terkontraksi pada kuartal lalu, pertama kali sejak nilai tukar uang tunggal mulai diterapkan pada 1999.

Responden Jerman dan Prancis memprediksi perekonomian mereka naik. Responden di Italia dan Spanyol memerkirakan perekonomian mereka melemah. (02)

Bloomberg

bisnis.com

Berita Lain

  • KANAL
    Korea incar saham Lehman Brother
  • KANAL
    Inggris siapkan stimulus US$1,8 miliar
  • KANAL
    Qtel siap investasi di Iran
  • 'China berhasil karena tak lakukan privatisasi'