Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ekonomi Global


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 08/10/2008

Tekanan pemangkasan suku bunga menguat

JAKARTA: Sejumlah negara mulai melonggarkan kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga acuan, untuk meningkatkan likuiditas di pasar keuangan dan mengatasi pembatasan penyaluran pinjaman yang dilakukan perbankan, akibat krisis kredit.

Bank Sentral Australia, kemarin, memangkas suku bunga 1% (100 basis poin) menjadi 6% atau angka terbesar sejak resesi ekonomi pada 1992. Kebijakan itu diharapkan menjadi penyangga ekonomi Australia melawan dampak kredit macet global.

Kekacauan di pasar keuangan, ditambah menurunnya belanja konsumen, dan pinjaman perumahan mendorong Gubernur Bank Sentral Australia Glenn Stevens mengurangi suku bunga acuan, dan diharapkan dapat menopang ekonomi, yang tumbuh melambat pada angka terendah, selama lebih dari 3 tahun terakhir, pada kuartal kedua tahun ini.

Kebijakan itu dipicu oleh kekhawatiran penurunan pertumbuhan ekonomi dunia yang mengaburkan peran dana penyelamatan dari Departemen Keuangan Amerika Serikat senilai US$700 miliar, untuk mendorong pertumbuhan pasar kredit.

A Tony Prasetiantono, Kepala Ekonom PT BNI Tbk mengatakan kebijakan bank sentral di sejumlah negara menurunkan suku bunga akan menambah dana di pasar, menyusul kepanikan di pasar uang akibat kesulitan likuiditas.

Dia menambahkan pemangkasan suku bunga, akan meningkatkan belanja, dan investasi, sehingga perekonomian lebih cepat pulih.

"Dari sisi inflasi, penurunan suku bunga dapat berdampak negatif, yaitu dapat menaikkan inflasi. Namun, bank sentral di dunia lebih mengutamakan menggerakkan ekonomi dan mengatasi kredit macet dibandingkan dengan menjaga inflasi," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Bloomberg menyebutkan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/the Fed) kemungkinan menurunkan biaya pinjaman, meskipun tidak dinyatakan secara terbuka.

The Fed akan memanfaatkan kekuatan UU penyelamatan sektor keuangan untuk menyusun batas bawah suku bunga, yang lebih rendah dari 2%.

Dari London, sebanyak 48 ekonom dari 61 ekonom yang disurvey Bloomberg menilai Bank of England seharusnya memangkas suku bunga sedikitnya 25 basis poin pada 9 Oktober 2008.

Sementara itu, The Bank of Japan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negara itu akan akan tetap lambat ditengah-tengah kondisi tidak menentu dan tetap mempertahankan suku bunga, pada level terendah di antara negara-negara industri lain.

Bernanke dijadwalkan berbicara tentang proyeksi ekonomi AS, pada pukul 12.30 siang, waktu setempat. (erna. girsang@bisnis.co.id)

Oleh Erna S. U. Girsang
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • KANAL
    Petinggi Goldman tak terima bonus
  • KANAL
    Investasi CIC makin ketat
  • Lion Nathan akuisisi Coca-Cola Amatil US$4,9 miliar
  • Kesepakatan G-20 efektif setelah krisis reda