Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ekonomi Global


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 10/10/2008

Perbankan Inggris siap pangkas bonus 60%

LONDON: Bonus bank-bank di London kemungkinan turun hampir 60% pada 2008, setelah sempat menikmati masa-masa indah pemberian bonus terbesar dalam 4 tahun terakhir ungkap Centre for Economics and Business Research.

Bonus di London, distrik finansial utama Inggris, diperkirakan turun menjadi US$6,2 miliar (3,6 miliar pound) tahun ini, dari 8,5 miliar pound pada 2007.

Perusahaan-perusahaan yang kekurangan uang tunai mungkin enggan atau dilarang secara hukum untuk membayar bonus setelah pemerintah Inggris mengambil langkah penyelamatan senilai 50 miliar pound untuk industri perbankan.

Perdana Menteri Gordon Brown mengancam akan menindak keras pemberian bonus di kalangan perbankan yang menurut sejumlah anggota parlemen turut mengakibatkan terjadinya krisis kredit tersebut.

Otoritas Jasa Keuangan berencana untuk membuat rancangan kebijakan yang mengatur pembayaran eksekutif di bank-bank Inggris. Kalangan bankir Inggris mendapatkan total lebih dari 30 miliar pound dalam bentuk bonus dalam 4 tahun terakhir, yang memicu permintaan realestat, mobil, dan barang mewah di London.

"Kita tengah menyaksikan perubahan fundamental dalam hal struktur remunerasi di kota ini. Bonus senilai miliaran plus tersebut akan jauh berkurang," kata Richard Snook, ekonom senior CEBR, dalam satu wawancara.   

Bonus juga akan dikurangi seiring dengan meningkatnya jumlah pekerja yang diberhentikan oleh perusahaan-perusahaan di kota tersebut.

Perusahaan-perusahaan keuangan telah menghapus lebih dari 133.000 pekerjaan di seluruh dunia sejak awal krisis kredit tahun lalu, data yang disusun Bloomberg menunjukkan.

Pada bagian lain, Menteri Keuangan AS Henry Paulson mengisyaratkan bahwa pemerintah kemungkinan melakukan investasi di bank-bank sebagai langkah selanjutnya dalam upaya menanggulangi krisis kredit yang kian mendalam.

Paulson berkata kepada wartawan di Washington, kemarin, bahwa undang-undang yang disahkan Kongres pekan lalu guna menyelamatkan lembaga-lembaga finansial memberinya otoritas luas yang akan dipergunakan olehnya, yaitu lebih dari sekadar membeli aset-aset yang terkait dengan hipotek di neraca kalangan bank. (t01)

Bloomberg

bisnis.com

Berita Lain

  • KANAL
    Petinggi Goldman tak terima bonus
  • KANAL
    Investasi CIC makin ketat
  • Lion Nathan akuisisi Coca-Cola Amatil US$4,9 miliar
  • Kesepakatan G-20 efektif setelah krisis reda