Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ekonomi Makro
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 16/05/2008
Realisasi investasi kuartal I tumbuh 86%
JAKARTA: Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkapkan realisasi investasi asing dan domestik kuartal I/2008 tumbuh 86% atau sekitar US$68 US$8 miliar.
Pertumbuhan realisasi penanaman modal pada triwulan I/2008 itu diperkirakan dipengaruhi pengalihan investasi dari negara-negara di kawasan Asia terutama dari China.
"Nilainya cukup baik, hampir US$8 miliar, baik investasi domestik maupun asing. Namun, ada beberapa koreksi untuk minat investasi seperti minat asing dan domestik yang terkoreksi pada 2005," kata Kepala BKPM Muhammad Lutfi seusai menghadiri Temu Usaha Indonesia-China di Jakarta, kemarin.
Namun, Kepala BKPM itu tidak bersedia menjelaskan secara detail penyebab koreksi minat investasi pada kuarta I/2008. Hingga pertengahan Mei ini, BKPM belum mengeluarkan laporan resmi mengenai realisasi investasi baik domestik maupun luar negeri triwulan I tahun ini.
BKPM, sambungnya, tengah menghitung persentase besaran penurunan minat investasi nasional triwulan I/ 2008 dengan menggunakan skema penghitungan baru sesuai dengan Undang-Undang No 25 2007 tentang Penanaman Modal.
Dengan menggunakan skema penghitungan lama, sambungnya, minat investasi nasional mengalami koreksi yang cukup besar yakni 40%.
Lutfi menjelaskan sesuai asal negara, Singapura menempati posisi teratas untuk investasi asing yang masuk ke Indonesia dalam triwulan pertama tahun ini. Jika dilihat dari sektor, telekomunikasi menjadi lahan investasi yang paling diminati oleh investor asing untuk menanamkan modalnya di Tanah Air.
Oleh Siti Munawaroh & Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- DINAMIKA
Pendapatan semester I naik 5% - DINAMIKA
BPKP tak audit bantuan langsung tunai - PP mekanisme reformasi agraria akan terbit bulan ini
- Kadin: Insentif pajak belum membantu bisnis mikro
- Beban bunga APBN naik Rp2,2 triliun