Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ekonomi Makro


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 17/05/2008

Pertumbuhan ekonomi belum sentuh sektor formal

JAKARTA: Menko Perekonomian Boediono memperkirakan penyerapan lapangan kerja sektor formal baru akan meningkat pada 2009 karena pertumbuhan ekonomi tahun depan diperkirakan bergerak pada kisaran 6,5%-7%.

Sampai dengan tahun ini, kata Boediono, lapangan kerja lebih banyak tercipta pada sektor informal. Namun, dia menilai kondisi itu merupakan tahapan yang harus dilalui Tanah Air.

"Sebenarnya [lapangan kerja] formal maupun informal kita masih mendapatkan manfaat kalau [pertumbuhan] ekonomi kembali pada tingkat 7%-an, nanti akan ada pergeseran lagi," katanya di Jakarta, kemarin.

 Proses itu, sambungnya, bisa bergerak dari sektor pertanian ke industri dan dari informal ke formal bahkan dapat dari satu daerah ke daerah lain. Saat ini, katanya, arus tenaga kerja ke luar Jawa juga relatif tinggi karena pertumbuhan ekonomi di daerah tujuan meningkat.

Boediono mengatakan pergeseran penciptaan lapangan kerja dari sektor formal ke informal sangat bergantung kepada kemampuan pemerintah mengembalikan pertumbuhan ke level yang lebih tinggi.

"Kami tidak tahu kapan, tetapi semoga bisa melewati masa-masa yang cukup kritis itu [dan] kembali lagi kepada range 6,5%-7% dalam waktu satu-dua tahun. Pada 2009 masih kami harapkan, kalau kondisi politiknya masih bagus," katanya.

Menko Perekonomian juga menolak jika pemerintah dikatakan tidak berperan dalam menurunkan angka pengangguran. Menurutnya, berbagai kebijakan yang dikeluarkan Kabinet Indonesia Bersatu berhasil meningkatkan investasi dan menciptakan lapangan kerja.

Belum berkualitas

Chief Economist BNI Tony Prasetiantono menuturkan pertumbuhan ekonomi yang lebih banyak ditopang sektor informal bukan hanya tidak akan bermutu tapi juga akan membuat roda ekonomi Jakarta cenderung bias ke arah sektor yang kurang menyerap tenaga kerja.

Solusi untuk mengatasi hal itu, katanya, dengan memacu pertumbuhan ekonomi di atas 7%.

"Namun menurut saya itu baru akan terjadi sesudah 2009. Tahun depan pertumbuhan ekonomi kita masih sekitar 6,5%. Jadi masih perlu 2 tahun lagi," katanya ketika dihubungi Bisnis

Secara terpisah, ekonom Indef Fadhil Hasan menyatakan pertumbuhan ekonomi tahun depan tetap tidak akan berkualitas jika kebijakan ekonomi hanya diarahkan pada sektor non-tradeable dan industri padat modal.

"Industri pengolahan dibiarkan terus melambat, karenanya tenaga kerja diserap oleh sektor informal. Jadi 2009 akan tetap begini. Pertumbuhan ekonominya tidak berkualitas."

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan dengan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I/2008 sebesar 6,3% (year-on-year).  Selain itu, BPS juga melaporkan 69% tenaga kerja bekerja pada kegiatan informal dan 31% sisanya di sektor formal.

Pekerja formal, dalam perhitungan BPS, mencakup kategori berusaha dengan dibantu buruh tetap dan kategori buruh/karyawan. Secara umum, pekerja di sektor informal akan mudah pindah ke jenis pekerjaan lain.

Boediono mengatakan penciptaan lapangan kerja terjadi karena aktivitas ekonomi yang bisa terjadi di sektor mana pun berdasarkan investasi yang ditanam. Di sektor pemerintahan, seperti menjadi PNS, lanjutnya, peluangnya relatif terbatas karena tidak mungkin pemerintah menciptakan lapangan kerja produktif  dalam jumlah besar. (16) (ahmad.muhibbuddin@bisnis.co.id)

Oleh Ahmad Muhibbuddin
Bisnis Indonesia


bisnis.com

Berita Lain

  • DINAMIKA
    Penerapan sistem modal ventura
  • DINAMIKA
    Pemerintah tetap anggarkan 19,1 RTS
  • DINAMIKA
    'Pajak daerah tetap di pusat'
  • Penaikan harga jual elpiji pengaruhi inflasi