Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ekonomi Makro


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 17/05/2008

PBB perkirakan laju PDB global 1,8%

JAKARTA: Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan perekonomian dunia semakin terpuruk menyusul memburuknya krisis kredit di negara-negara maju, penurunan nilai tukar dolar AS, ketimpangan global, dan lonjakan harga minyak dan komoditas.

Departemen Urusan Sosial dan Ekonomi PBB memprediksi tahun ini ekonomi global anjlok ke level 1,8% dan naik sedikit menjadi 2,1% pada tahun depan. Tahun lalu ekonomi dunia tumbuh 3,8%.

Berdasarkan laporan ekonom PBB yang dirilis Kamis bertajuk World Economic Situation and Prospects 2008, seluruh faktor negatif itu mengancam pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia.

 "Krisis pangan global bukan hanya isu kemanusiaan yang serius tapi juga ancaman terhadap stabilitas politik dan sosial di beberapa negara berkembang," tulis ekonom PBB melalui situs resmi organisasi itu.

Krisis pangan juga bisa membalikkan sejumlah kemajuan yang telah dicapai dalam memenuhi target pembangunan milenium (MDGs).

Laporan itu menyatakan perekonomian dunia masih bergantung pada perkembangan AS  mengalami pelemahan pertumbuhan PDB akibat krisis kredit dan keuangan.

Skenario terburuk menyebutkan ekonomi dunia tidak akan bergerak jika kebijakan keuangan di AS gagal membalikkan keadaan ekonomi dan harga perumahan di negara itu terus turun, diikuti dengan memburuknya pengetatan kredit.

Paket internasional

Laporan PBB itu menyerukan pembentukan paket stimulus yang terkoordinasi secara internasional untuk mendukung upaya AS dan ekspansi permintaan domestik di negara-negara dengan surplus dana khususnya di Eropa, Teluk Arab, dan Asia Timur.

Untuk mengantisipasi inflasi akibat kenaikan harga makanan, ekonom merekomendasikan perbaikan pasokan dan produktivitas melalui investasi di teknik irigasi, infrastruktur, benih dan pupuk, serta riset dan pembangunan pertanian.

"Ini juga akan meningkatkan ekonomi perdesaan di mana sebagian besar penduduk paling miskin dunia tinggal," tulis PBB.

Para ekonom itu menyarankan reformasi yang menyeluruh terkait dengan mekanisme pengaturan dan pengawasan keuangan internasional diperlukan untuk menghindari hambatan pasokan komoditas vital seperti bahan pangan. (02)

Oleh Nana Oktavia Musliana
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain