Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ekonomi Makro


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 17/05/2008

BI akan revisi target inflasi jangka menengah

JAKARTA:   BI akan mengubah target inflasi jangka menengah karena berpotensi meleset menyusul kenaikan harga minyak di pasar internasional dan tekanan harga sejumlah komoditas.

Gubernur Bank Indonesia terpilih Boediono mengatakan inflation targeting framework merupakan salah satu elemen untuk membuat perkiraan sasaran inflasi dan mekanisme untuk mencapainya.

"Kami evaluasi. Inflation targeting adalah salah satu elemen menjelaskan pada masyarakat, targetnya dan cara mencapainya. Sekarang meleset karena faktor eksternal yang tidak kami bayangkan," katanya di Jakarta, kemarin.

Boediono yang masih menjabat posisi Menko Perekonomian itu menyatakan BI mesti menjelaskan kepada masyarakat bahwa perkembangan inflasi tidak sesuai lagi dengan target jangka menengah.  Revisi itu, sambungnya, akan dibahas dengan pemerintah.

Seperti diketahui BI mematok target inflasi untuk jangka menengah dalam kisaran 3%-4%. Tekanan faktor eksternal terhadap perekonomian domestik mengancam target inflasi yang disasar Tanah Air.

Inflasi pada APBN Perubahan 2008 dipatok sebesar 6,5%, sedangkan laju sampai dengan April berdasarkan laporan BPS mencapai 4,01%.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Depkeu sebelumnya memperkirakan inflasi tahun ini akan mencapai 11% menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak yang akan diumumkan pemerintah akhir bulan ini.

Boediono mengatakan dari segi moneter, bank sentral  akan menyiapkan perangkat yang lebih baik untuk mengendalikan inflasi dengan menyesuaikan situasi perekonomian domestik.

Dia menilai saat ini inflasi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor nonmoneter. Boediono berharap tidak ada lagi gejolak dari sisi fiskal menyusul upaya pemerintah memperbaiki manajemen logistik dan distribusi barang untuk menciptakan harga yang lebih terjangkau.

"Saya akan bekerja sebisa mungkin dengan teman-teman di BI. Dari  sisi moneternya kita akan siapkan."

Kritik DPR

Revisi target inflasi itu juga bisa menjadi jawaban atas tudingan Komisi XI DPR tentang inkonsistensi BI dalam mengelola ekspektasi inflasi sehingga pasar meragukan kredibilitas bank sentral itu dalam mengendalikan inflasi itu.

Anggota Komisi XI DPR Ramson Siagian mengatakan BI seharusnya menyampaikan perhitungan inflasi kepada DPR dan pemerintah saat pembahasan APBN Perubahan (APBN-P) berlangsung sehingga gambaran mengenai arah inflasi bisa lebih jelas.

"BI waktu itu kan ikut menyetujui perkiraan inflasi 2008 sebesar 6,5% dalam APBN-P, tapi beberapa minggu kemudian meraka [BI] justru bicara inflasi akan mencapai lebih dari 9%-10%," katanya belum lama ini.

Ramson mempertanyakan kebijakan BI menyepakati asumsi inflasi dalam APBN-P beberapa waktu lalu, tetapi saat ini berubah arah dengan menyatakan  kenaikan angka inflasi bisa lebih besar dari target yang ditetapkan.  (16)

Oleh Ahmad Muhibbuddin
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • 43 WP telah dicekal tahun ini
  • 2 Asumsi RAPBN 2009 disepakati
  • Produk hand carry diusulkan bebas PPnBM
  • DINAMIKA
    BI pantau uang beredar jelang pemilu