Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ekonomi Makro


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 09/07/2008

Laju inflasi sepanjang 2008 tetap aman

JAKARTA:  Pemerintah meyakini laju inflasi tahun ini berada di kisaran 10%-11% atau aman karena masih sesuai dengan asumsi dalam outlook 2008 pascakenaikan harga bahan bakar minyak.

Menteri Keuangan Plj. Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati mengatakan fokus pemerintah pada semester II akan lebih ditujukan kepada evaluasi ketersediaan bahan pangan.

Pemerintah, ujarnya, akan berupaya keras menjaga stok dan distribusi barang pangan karena harga pangan masih menjadi faktor penentu tingginya inflasi. "Untuk 2008 ini kami melihat inflasi mungkin ada di sekitar 10%-11%, kita masih berharap pada semester kedua," ujar Menkeu kemarin.

Di sisi lain, lanjut Sri Mulyani, pemerintah tetap mewaspadai ancaman inflasi dari komoditas nonpangan dan listrik. Dia mencontohkan untuk pertengahan tahun biasanya biaya untuk pendidikan meningkat menginjak tahun ajaran baru.

Selain itu, datangnya hari raya Lebaran dan Natal pada akhir tahun juga mendorong masyarakat untuk konsumtif sehingga berpengaruh terhadap harga-harga barang. "Untuk itu kami akan lihat dari sisi manajemen stok. Akan tetapi secara umum untuk pangan tampaknya cukup aman sampai akhir tahun."

Direktur Perencanaan Makro Kemeneg PPN/Bappenas Bambang Prijambodo menyebutkan instrumen suku bunga masih menjadi cara yang efektif dalam pengendalian laju inflasi di Indonesia, kendati sejumlah negara maju di Eropa dan AS merelakan suku bunga yang rendah demi mendorong pertumbuhan ekonomi.

Perkuat rupiah

Dia mengatakan suku bunga yang tinggi untuk meredam inflasi tetap perlu dilakukan untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Ini berbeda dengan kebijakan moneter di AS, dimana Federal Reserve, bank sentral AS, justru menetapkan suku bunga di bawah inflasi untuk menurunkan nilai tukar mata uang negara itu.

"Kebijakan Pemerintah AS menetapkan suku bunga di bawah inflasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di negara itu," jelasnya kemarin.

Akan tetapi, Bambang mengingatkan pertumbuhan ekonomi di AS masih didominasi oleh sisi produksi, sedangkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia sebagian dari sisi konsumsi. Kondisi yang berbeda ini membuat instrumen suku bunga di AS bukan menjadi prioritas dalam hal pengendalian inflasi.

Di sejumlah negara lain, tambahnya, tren suku bunga tinggi memang sedang terjadi. Namun, belum dapat dipastikan seberapa kuat pengaruh kecenderungan ini untuk pengendalian inflasi global.

Sebaliknya, sejumlah negara juga sedang berupaya memanfaatkan semua momentum menggerakkan pertumbuhan ekonomi sehingga tidak terperangkap ke dalam stagflasi yang berujung pada resesi.

Pada perkembangan lain, sisi produksi telah memberikan sinyal positif terhadap tingginya harga sejumlah komoditas di pasar internasional dengan mulai menaikkan produksi. Peningkatan produksi ini diperkirakan tidak terbatas untuk komoditas pangan dan perkebunan, tetapi juga bahan bakar minyak. "Sudah mulai terlihat ada sinyal dari harga terhadap peningkatan produksi," ujarnya.

Bambang juga merujuk sejumlah negara maju yang mengubah kebijakan moneter ke arah yang lebih dinamis sambil mengamati dampak kredit macet kepemilikan rumah di AS.   Dia juga berharap ada upaya bersama dari negara-negara  maju untuk menangani gejolak harga, termasuk minyak mentah.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan laju inflasi Juni secara tahunan (year-on-year) dibandingkan dengan bulan yang sama 2007 mencapai 11,03%, tertinggi sepanjang tahun ini. Untuk inflasi bulanan pada Juni tercatat 2,46%, sedangkan tahun kalender (Januari-Juni) 2008 mencapai 7,37%.

Sektor transportasi memberi sumbangan terbesar terhadap inflasi akibat kenaikan harga BBM. Kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan menyumbang 1,55% terhadap angka inflasi Juni 2008, yang mencapai 2,46%. (16)  (erna.girsang@bisnis.co.id)

Oleh Erna S.U. Girsang
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • 43 WP telah dicekal tahun ini
  • 2 Asumsi RAPBN 2009 disepakati
  • Produk hand carry diusulkan bebas PPnBM
  • DINAMIKA
    BI pantau uang beredar jelang pemilu