Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ekonomi Makro
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Senin, 21/07/2008
Beban bunga APBN naik Rp2,2 triliun
JAKARTA: Pemerintah mencatat beban bunga seluruh utang negara yang harus dibayar tahun ini bertambah Rp2,2 triliun menjadi Rp97 triliun akibat tekanan inflasi yang terpicu kenaikan harga BBM dan gejolak perekonomian global.
Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto menuturkan dampak inflasi yang disumbang kenaikan harga BBM dan krisis subprime mortgage di AS yang belum mereda menjadi penyebab utama meningkatnya beban bunga utang pemerintah.
Tekanan inflasi itu, sambungnya, turut mendongkrak tingkat suku bunga dan nilai imbal hasil surat utang negara.
"Itu wajar ditanggung pemerintah karena pengaruh inflasi yang turut meningkatkan suku bunga dan yield. Jadi karena sentimen negatif di pasar, dampak krisis subprime mortgage yang belum reda ada pengaruhnya pada inflasi di dalam negeri," katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.
Sebelumnya pemerintah menganggarkan beban utang sebesar Rp91,3 triliun dalam APBN, kemudian naik dalam APBN-P 2008 menjadi Rp94,8 triliun karena beban utang itu didasarkan pada asumsi makro awal tahun.
"Ternyata setelah kami lihat perkembangan terakhir, yield-nya sudah naik, tetapi memang dalam situasi seperti ini segala sesuatunya cepat berubah, tidak hanya yield, tetapi juga permintaan terhadap surat utang."
Menurut dia, berbagai kebijakan fiskal dan moneter telah dikeluarkan Bank Indonesia dan pemerintah untuk meredam laju inflasi. Dia memberi contoh langkah BI menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 8,75% itu berdampak positif pada kepercayaan investor, terutama asing.
Rahmat mengungkapkan saat ini total pinjaman dalam negeri sebesar Rp117,8 triliun. Sementara untuk pinjaman program luar negeri senilai US$2,7 miliar. Dia menambahkan realisasi pembiayaan yang berasal dari surat berharga negara (SBN) mencapai 84% dari neto.
"Sedangkan posisi gross-nya mencapai 65%. Untuk pinjaman program luar negeri sebesar 25%, tetapi nanti setelah semester II akhir kuartal III atau kuartal IV," tegasnya.
Berdasarkan Laporan Semester I dan Prognosa Semester II/2008, realisasi penerimaan SBN neto mencapai Rp81,6 triliun sampai dengan 30 Juni dan diperkirakan sampai dengan akhir tahun penerbitan neto masih kurang Rp34,2 triliun.
Jumlah itu merupakan ceiling setelah memperhitungkan perkiraan kebutuhan penerbitan SBN untuk pengelolaan kas Rp12 triliun. Selain itu, sampai dengan akhir 2008 tambahan pasokan SBN domestik mencapai sekitar Rp58,1 triliun
Penghematan anggaran
Terkait dengan penghematan anggaran Wakil Presiden Jusuf Kalla optimistis penerimaan negara sedikitnya akan bertambah Rp200 triliun pada 2010.
"Tambahan penerimaan itu berasal dari penghematan energi yang kami lakukan sekarang ini," katanya dalam acara Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Ke-13 di Nusa Dua, Bali, seperti dikutip Antara.
Penghematan energi yang dimaksud Wapres adalah program konversi minyak tanah ke elpiji dan program 10.000 MW berupa pengalihan bahan bakar pembangkit dari minyak ke batu bara.
Dia menjelaskan dari anggaran negara tahun ini yang mencapai sekitar Rp1.000 triliun, sekitar 40%-45% hanya digunakan untuk membayar subsidi BBM, listrik, pangan, serta cicilan dan bunga.
Dia melanjutkan tambahan penerimaan negara tersebut akan digunakan untuk investasi dan membangun sejumlah proyek infrastruktur guna menunjang pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.
"Pada 2011 kami optimistis pertumbuhan ekonomi akan melesat menjadi 9% dan Indonesia akan menjadi negara yang lebih terhormat di Asia," katanya.
Namun, dia menuturkan seluruh target tersebut harus diiringi dengan pembangunan fondasi ekonomi yang berbasis potensi daerah yang lebih kuat lagi sampai dengan tiga tahun ke depan.
Jusuf Kalla mengatakan tahun lalu pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,3% dan tahun ini sekitar 6%. "Di saat banyak kekurangan seperti sekarang ini, ekonomi kita tumbuh sebesar 6%. Ini luar biasa. Ibarat gadis cantik, pakai make up sedikit saja, akan lebih cantik lagi," katanya. (16/Samantha Ardiansyah/John Andhi Oktaveri) (redaksi@bisnis.co.id)
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- Peluang debt to equity swap tetap terbuka
- Darmin tunggu putusan kasasi kasus Asian Agri
- Defisit APBN-P 2008 berpeluang turun
- Neraca pembayaran surplus US$1,3 miliar
- 'Dana kemitraan proyek infrastruktur Rp320 triliun'