Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ekonomi Makro


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 06/09/2008

Neraca pembayaran surplus US$1,3 miliar

JAKARTA: Pemerintah membukukan surplus neraca pembayaran Indonesia (NPI) sekitar US$1,3 miliar sepanjang kuartal II/2008, seiring dengan peningkatan cadangan devisa pada periode itu menjadi US$59,5 miliar.

Siaran pers Bank Indonesia melansir surplus transaksi modal dan keuangan yang melebihi defisit transaksi berjalan menjadi sumber dari surplus NPI. Pasalnya, transaksi modal dan keuangan saat ini mengalami surplus sekitar US$3,7 miliar.

Sementara itu, transaksi berjalan mengalami defisit sekitar US$1,5 miliar, kendati neraca perdagangan dan neraca transfer berjalan mengalami surplus.

Helmi Arman, Economist Treasury & Capital Markets PT Bank Danamon Indonesia Tbk, menuturkan  defisit transaksi berjalan disebabkan oleh dua hal. Pertama, surplus neraca perdagangan yang makin rendah diperburuk oleh defisit perdagangan minyak. Kedua, meningkatnya penarikan modal oleh investor asing.

"Namun secara keseluruhan NPI masih mengalami surplus karena didukung surplus sektor keuangan yang masih cukup kuat," jelas dia.

Surplus NPI juga ditunjang oleh modal masuk lebih kuat ke pasar obligasi dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan dapat menutupi arus modal keluar masyarakat.

Menurut dia, defisit perdagangan minyak a.l. disebabkan kebutuhan impor minyak Pertamina meningkat pada kuartal II.

Bank Indonesia mencatat jumlah surplus NPI kuartal I/2008 semakin menurun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ekspor yang tidak setinggi pertumbuhan impor disinyalir menjadi penyebab makin merosotnya surplus NPI dibandingkan dengan tahun lalu.

Hingga akhir semester I/2008, ekspor tumbuh menjadi 27,6% (y-o-y) atau meningkat dari pertumbuhan tahun sebelumnya 14,6%.

Adapun pertumbuhan tahunan impor meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor menjadi 51,2%, naik dari tahun sebelumnya 14%. Ada beberapa hal yang memicu tingginya pertumbuhan impor, a.l. kenaikan harga produk impor, kenaikan permintaan domestik, dan kenaikan permintaan bahan baku untuk kegiatan produksi dalam negeri yang berbasis ekspor.

Sementara itu, transaksi modal dan keuangan selama kuartal II/2008 mengalami peningkatan surplus karena meningkatnya modal asing yang masuk dalam bentuk modal portfolio. Kemudian, penarikan utang luar negeri swasta dan penanaman modal langsung  turut menyokong surplus.

Selain itu, beberapa hal yang juga memengaruhi surplus transaksi modal dan keungan, a.l. meningkatnya kegiatan ekonomi domestik, membaiknya iklim investasi, selisih suku bunga yang menarik, kestabilan makro ekonomi yang terjaga, membaiknya persepsi investor mengenai daya tahan keuangan negara (APBN) pasca kenaikan harga BBM. (16)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • DINAMIKA
    Pemerintah atur dana sosial agama
  • DINAMIKA
    Parlemen Asia bahas keuangan global
  • DINAMIKA
    Pengusaha minta angsur pajak
  • Bappenas: Tidak ada pinjaman IMF
  • Perencanaan DAK perlu direformasi