Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ekonomi Makro


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 09/10/2008

'Revisi APBN tak pengaruhi pengurangan kemiskinan'

JAKARTA: Pemerintah menjamin target pengurangan angka kemiskinan dan angka pengangguran tetap terjaga meskipun ada peluang perubahan asumsi makroekonomi dan postur pembiayaan dalam APBN 2009.

Menurut Deputi bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan Bappenas Bambang Widianto, target itu dapat terjaga karena pemerintah berupaya agar alokasi anggaran untuk prioritas pembangunan tersebut tidak dipangkas meskipun nantinya ada perubahan dalam postur APBN tahun depan.

"Kami akan tetap mengawal bahwa prioritas itu tetap tidak berubah meskipun nantinya ada perubahan dalam postur APBN tahun depan. Ini penting karena merupakan substansi utama pembangunan ekonomi yang tetap harus dicapai pemerintah," ujar Deputi bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan Bappenas Bambang Widianto, kemarin.

Seperti disebutkan dalam data Bappenas, pemerintah mematok target pengurangan angka kemiskinan 2009 berkisar pada level 12-14%, sedangkan pengangguran ditargetkan berkisar pada level 7-8%. Pencapaian target kedua prioritas itu berdasarkan pada asumsi pertumbuhan ekonomi 6,3%, inflasi 6,2%, nilai tukar rupiah Rp9.150 per dolar AS.

Mempertimbangkan krisis keuangan AS yang dapat berdampak pada perekonomian global dan Indonesia, pemerintah baru-baru ini mengajukan kembali penyesuaian berbagai asumsi makroekonomi yang telah disepakati pemerintah dengan Panja Asumsi DPR pada September lalu.

Dalam usulan terbarunya, pemerintah akan merevisi pertumbuhan ekonomi tahun depan menjadi 6% dari sebelumnya 6,3%, sedangkan laju inflasi menjadi berkisar 6,5-7,5% dari 6,2%. Selain itu, nilai tukar Rp9.200 dari Rp9.150.

Ekonom dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Latif Adam menilai perubahan asumsi makro dapat berdampak pada kesulitan pencapaian target pengurangan angka kemiskinan dan pengangguran.

Oleh Dewi Astuti
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • DINAMIKA
    Pemerintah atur dana sosial agama
  • DINAMIKA
    Parlemen Asia bahas keuangan global
  • DINAMIKA
    Pengusaha minta angsur pajak
  • Bappenas: Tidak ada pinjaman IMF
  • Perencanaan DAK perlu direformasi