Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ekonomi Makro


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 09/10/2008

Bank Dunia diminta tunda penyetopan soft loan

JAKARTA: Pemerintah akan mengajukan proposal kepada Bank Dunia yang berisi permintaan untuk kembali menunda rencana penyetopan pinjaman lunak (soft loan) untuk Indonesia.

Sekretaris Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Sekretaris Utama Bappenas Syahrial Loetan mengatakan pinjaman lunak yang bersumber dari International Development Assistance (IDA), instrumen pinjaman lunak milik Bank Dunia, masih dibutuhkan pemerintah.

Pasalnya, instrumen pinjaman lunak masih paling menguntungkan di tengah kesulitan dalam mencari sumber alternatif pembiayaan pembangunan. Pinjaman ini lebih menguntungkan karena bertenor lebih lama dan berbunga rendah.

"Kami akan meminta agar tetap diberi akses ke IDA. Tidak ada salahnya kita [pemerintah] mencoba lagi untuk membujuk mereka melakukan hal itu [penundaan rencana penyetopan pinjaman lunak]," tuturnya kepada Bisnis, pekan lalu.

Syahrial mengungkapkan proposal tersebut akan diajukan langsung oleh Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta kepada Dewan Direksi Bank Dunia pada Pertemuan Tahunan Bank Dunia-IMF di Washington DC, AS pada 13 Oktober.

Pengajuan proposal pinjaman lunak bersamaan dengan proposal permintaan stand-by loan (pinjaman cadangan) senilai US$2 miliar yang juga akan diajukan Bappenas pada pertemuan tahunan tersebut.

Sebelumnya, Bank Dunia menyatakan akan menghentikan pinjaman lunak kepada Indonesia pada tahun ini karena negeri ini dinilai sudah masuk dalam kategori negara berpendapatan menengah, yakni dengan pendapat per kapita di atas US$1.000.

Joachim von Amsberg, Country Director Bank Dunia untuk Indonesia, mengatakan pihaknya tidak memenuhi proposal pengajuan pinjaman lunak terhitung Juni tahun ini.

Keputusan tersebut sebagai realisasi kesepakatan antara Dewan Direksi Bank Dunia dan Indonesia dalam dewan tersebut pada 2004 yang menyebutkan  periode Juni 2005-Juni 2008 merupakan putaran terakhir pemberian komitmen IDA.

Indikasi untuk menyetop IDA, ujarnya, telah muncul sejak empat tahun lalu. Namun, pada waktu itu Indonesia masih menolak, kendati pendapatan per kapita Indonesia sudah sedikit di atas US$1.000.

Berdasarkan catatan Bank Dunia, jumlah pinjaman lunak yang diberikan lembaga donor yang dinakhodai Robert B. Zoellick itu kepada Indonesia hingga awal tahun lalu mencapai US$1,3 miliar.

Pada tahun depan, pemerintah berencana menarik pinjaman program senilai total US$2,6 miliar, di mana US$1,2 miliar- hingga US$1,4 miliar di antaranya bersumber dari Bank Dunia.

Oleh Dewi Astuti
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • DINAMIKA
    Pemerintah atur dana sosial agama
  • DINAMIKA
    Parlemen Asia bahas keuangan global
  • DINAMIKA
    Pengusaha minta angsur pajak
  • Bappenas: Tidak ada pinjaman IMF
  • Perencanaan DAK perlu direformasi