Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ekonomi Makro


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 11/10/2008

Indonesia tetap jauhi pinjaman IMF

JAKARTA: Pemerintah menyatakan tidak berniat mengajukan proposal penarikan pinjaman dalam bentuk apa pun dari Dana Moneter Internasional (IMF), yang dinakhodai Dominique Strauss-Kahn.

Seperti dikabarkan, IMF menawarkan program pinjaman darurat berupa pengucuran ratusan miliar dolar AS ke negara-negara berkembang untuk mengatasi gejolak sektor keuangan belakangan ini.

Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan dalam Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia yang digelar akhir pekan ini di Washington DC, AS, pemerintah hanya akan mengajukan proposal penarikan pinjaman dalam bentuk standby loan US$2 miliar dari Bank Dunia.

Menurut dia, kondisi keuangan IMF saat ini tidak kondusif sehingga seandainya pun pemerintah mengajukan proposal penarikan pinjaman, peluang untuk mendapatkannya sangat kecil.

Selain itu, dilihat dari aspek politis, risiko penarikan pinjaman dari IMF juga sangat besar "IMF sih gak mungkin," katanya, sebelum bertolak ke Washington DC, AS pekan ini. Paskah merupakan alternate governor yang mewakili Pemerintah Indonesia dalam Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia akhir pekan ini.

Selain Paskah, Deputi bidang Pembiayaan Pembangunan Bappenas Lukita Dinarsyah Tuwo dan Direktur Pendanaan Luar Negeri Multilateral Bappenas Dewo Broto Joko Putranto juga ikut dalam rombongan.

Direktur Pelaksana IMF Dominique Strauss-Kahn dalam situs resmi IMF mengatakan pihaknya telah mengaktifkan program pinjaman darurat yang dapat mendistribusikan uang tunai ke negara anggotanya yang membutuhkan.

Program pinjaman itu akan memberi ruang bagi negara anggota untuk mendapat pencairan pinjaman dalam 10 hari, atau lebih cepat daripada prosedur pinjaman biasa yang memakan waktu beberapa pekan.

Persyaratan yang diminta IMF seperti pemangkasan pengeluaran pemerintah juga akan tidak begitu dibebankan. Berdasarkan data yang dikutip dari Bloomberg, outstanding loan yang dimiliki dana moneter itu per 30 September mencapai US$17 miliar, atau turun drastis dari US$110,2 miliar pada 31 Desember 2003.

Menurut Bambang Widianto, Ad Interim Sekretaris Menneg PPN/Sekretaris Utama Bappenas, pengajuan pinjaman darurat dari IMF sangat tidak relevan karena performa neraca pembayaran pembayaran Tanah Air masih memadai.

Oleh Dewi Astuti
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • DINAMIKA
    Pemerintah atur dana sosial agama
  • DINAMIKA
    Parlemen Asia bahas keuangan global
  • DINAMIKA
    Pengusaha minta angsur pajak
  • Bappenas: Tidak ada pinjaman IMF
  • Perencanaan DAK perlu direformasi