Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Ekonomi Makro


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 11/10/2008

China panen investasi, Singapura hadapi resesi

BEIJING: Investasi asing langsung di China melonjak 39,9% sepanjang sembilan bulan pertama 2008 karena investor lebih memilih untuk berinvestasi di negara yang mencatat pertumbuhan ekonomi tercepat.

Kementerian Perdagangan China melaporkan belanja perusahaan-perusahaan asing di China juga mencatatkan penaikan menjadi US$74,4 miliar.

Pemerintah China berhasil menjaga tingkat pertumbuhan ekonomi lebih dari 10% selama lima tahun terakhir. Adapun, Lembaga Pendanaan Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara itu melaju 9,3% pada 2009, meskipun dunia dilanda krisis keuangan.

"Masyarakat dunia menyadari benar adanya potensi pertumbuhan ekonomi China. Meski demikian, sedikit penurunan laju ekonomi juga tidak terhindarkan karena adanya krisis kredit global," kata Sherman Chan, ekonom Moody's Economy.com di Sydney, kemarin.

Pada semester I/2008, investasi asing di China mencapai 45,6%.

Sementara itu, resesi tengah menghampiri Singapura, yang tercatat sebagai tiga besar negara tujuan ekspor Indonesia, seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi negara itu dalam dua kuartal terakhir.

Pada kuartal I/2008, Singapura mencatat laju ekonomi 15,6% dan kemudian melorot pada kuartal II/2008 menjadi minus 5,7% dan minus 6,3% pada kuartal III/2008.

Kementerian Perdagangan Singapura menyatakan sepanjang 2008, perekonomian hanya akan tumbuh 3%, dari target semula sebesar 5%. Artinya, penurunan laju ekonomi itu adalah yang terburuk dalam tujuh tahun terakhir.

"Negara-negara di Asia tidak dapat menghindari dampak pelemahan ekonomi AS, Eropa, dan Jepang. Kami harus siap menghadapi tahun depan dan bahkan bisa lebih lama lagi," ujar Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, kemarin.

Sementara itu, Laporan tinjauan ekonomi global 2008 yang dirilis lembaga dana moneter internasinal (International Monetary Fund/IMF), pekan ini, menyebutkan negara-negara maju sedang berada pada kecenderungan memasuki resesi ekonomi.

Laporan IMF yang dikutip Bisnis dari situs resmi lembaga itu menyebutkan negara berkembang belum memasuki resesi, tetapi laju pertumbuhan ekonomi turun, pada pergerakan yang sangat cepat.

Sejumlah ekonom yang disurvei Bloomberg menyebutkan dalam menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi yang semakin parah, ekonomi Asia bergantung pada ekspor.

Di sisi lain, permintaan ekspor melemah di tengah-tengah kehati-hatian perbankan global menyalurkan kredit (kredit crunch) yang menumbangkan sejumlah bank di Inggris dan Eropa.

Outlook terhadap nilai tukar yang juga akan dirilis Singapura hari ini, diproyeksikan akan menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi, kemungkinan mendorong penurunan pendapatan Bank Sentral Singapura dari mata uang.

"Penyesuaian perlambatan pertumbuhan ekonomi terhadap semua pasar, tidak dapat menghindarkan Singapura dari pelemahan pertumbuhan atau pertumbuhan agak lambat dalam jangka waktu yang sedikit lebih panjang. Kebijakan mengurangi perlambatan itu akan menyebabkan penahanan perkembangan sejumlah sektor yang berorientasi pada ekspor," ujar Alvin Liew, ekonomi pada Standard Chartered Pld di Singapura.

Singapura adalah negara pertama di Asia yang merilis perkembangan ekonomi kuartal ketiga pada tahun ini.

Pelemahan pertumbuhan di negara itu dapat menjadi pertanda terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi regional. Perlambatan itu terjadi akibat memburuknya kepercayaan konsumen, kebijakan perbankan memperpanjang pengurangan pinjaman, serta upaya perusahaan memangkas belanja dan mengurangi karyawan. (gak/esu)

Bloomberg

bisnis.com

Berita Lain

  • DINAMIKA
    Pemerintah atur dana sosial agama
  • DINAMIKA
    Parlemen Asia bahas keuangan global
  • DINAMIKA
    Pengusaha minta angsur pajak
  • Bappenas: Tidak ada pinjaman IMF
  • Perencanaan DAK perlu direformasi