Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Senin, 12/05/2008
Review MacBook Air
Desain minimalis, kemampuan maksimalis
Sejak beralih ke prosesor Intel para penggemarnya lama menunggu-nunggu komputer notebook Apple ultraportabel. Pada saat masih menggunakan prosesor PowerPC yang termasuk dalam kategori ini adalah PowerBook 12 inci. Namun agaknya Apple sibuk memproduksi notebook berlayar lebar. MacBook Pro yang diposisikan sebagai pengganti lini PowerBook memiliki layar 15 inci dan 17 inci. Padahal salah satu penyebab Apple beralih ke Intel adalah untuk buat meneruskan lini ultraportabel mereka.
Penantian pemakai Apple akhirnya berakhir pada bulan Januari lalu. Pada tanggal 15 bulan tersebut CEO Apple, Steve Jobs, memamerkan notebook ultraportabel pertama Apple yang menggunakan prosesor Intel, MacBook Air.
MacBook Air konon menimbulkan kehebohan pada acara itu, karena ukurannya yang sangat tipis. Steve Jobs membawanya ke dalam ruangan di dalam sebuah amplop, dan tidak ada yang menyangka bahwa isinya adalah sebuah komputer.
Dalam kesempatan ini Bisnis mendapatkan kesempatan untuk menguji coba sendiri komputer ultraportabel Apple tersebut. Bagaimana kebolehan notebook yang diklaim Apple sebagai komputer tertipis di dunia ini?
Anda pikir ponsel Anda sudah tipis? Coba periksa lagi, karena ada kemungkinan MacBook Air masih lebih tipis daripadanya. Padahal umumnya komputer notebook, seberapapun ringannya, masih lebih tebal dari kebanyakan ponsel. Ketebalannya-atau mungkin lebih tepat ketipisannya-hanya 0,4 cm sampai 1,94 cm.
Multisentuh
Namun ukuran tipis ini tidak berlaku buat dimensi lainnya. Layar MacBook Air setara dengan layar MacBook yang paling kecil: 13,3 inci. Agaknya Apple merasa tidak puas dengan ukuran layar 12 inci yang sebelumnya menjadi standar ultraportabel mereka.
Ukuran layar yang cukup lebar buat ultraportabel ini berdampak pula pada peranti masukan lainnya, seperti papan ketik dan touchpad. Dibandingkan kebanyakan komputer ultraportabel lainnya papan ketik MacBook Air cukup lega.
Namun tidak berarti papan ketik tersebut tanpa kekurangan. Misalnya tidak tombol Home, PageUp, PageDown dan End (meskipun ini dapat diemulasi dengan Fn + tombol panah), serta tak ada tombol NumLock atau PrtScrn yang biasa ditemukan pada papan ketik notebook lain. Dan mengikuti tradisi Apple yang menyebalkan, tombol Enter/Return berukuran kecil, lebih kecil daripada Shift.
Salah satu fitur yang menjadi favorit pemakai MacBook Pro, lampu belakang (backlit) pada papan ketik, dibawa Apple untuk MacBook Air.
Lampu belakang ini akan menyala dari balik tombol papan ketik ketika MacBook Air mengindera bahwa penerangan di dalam ruangan berkurang. Ini akan berguna di dalam ruangan yang digelapkan, seperti pada saat melakukan presentasi dengan proyektor.
Trackpad mungkin merupakan salah satu kelebihan MacBook Air yang belum dapat ditandingi oleh notebook lain. Peranti pointer ini lebih luas dari yang sudah-sudah, dan merupakan yang terluas dari semua notebook yang pernah saya temukan. Namun yang patut disebutkan di sini adalah kemampuannya untuk melakukan multisentuhan (multitouch). Ini lagi-lagi dipinjam dari peranti Apple lainnya, iPhone dan iPod Touch.
Antarmuka multisentuhan merupakan fitur unggulan pada iPhone. Namun tidak seperti pada peranti genggam tersebut fungsi multisentuhan tidak terlalu vital untuk komputer seperti MacBook Air.
Gerakan multisentuhan bisa digunakan untuk memperbesar dan memperkecil gambar misalnya, namun ini juga dapat dilakukan dengan tombol papan ketik.
Bagaimanapun, fitur ini cukup menarik sebagai alternatif. Mungkin Anda akan merasa multisentuhan lebih intuitif daripada papan ketik.
Di satu sisi ketipisan MacBook memang menguntungkan buat para pemakai yang menginginkan kemudahan dalam bepergian.
Di sisi lain sebenarnya Apple membuat banyak pengorbanan untuk mendapatkan rancangan unik ini. Misalnya Apple tidak menyertakan drive optik (DVD/CD) atau slot ExpressCard. Mereka bahkan tidak menyediakan port Ethernet.
Untuk terhubung ke jaringan satu-satunya cara adalah lewat adapter nirkabel (Wi-Fi). Apple memilih adapter 802.11n. Kalau Anda benar-benar perlu koneksi ethernet satu-satunya cara adalah membeli adapter USB-Ethernet, yang tersedia terpisah.
Colokan lain yang tersedia adalah colokan mikro-DVI. Dengan adapter yang disediakan ini dapat dihubungkan dengan kabel VGA atau DVI.
Pada kesempatan berikutnya kita akan melihat lebih jauh isi di dalamnya, kinerjanya serta baterai. (redaksi@bisnis.co.id)
Gombang Nan Cengka
Kontributor Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- IMBAL HASIL
UOB Buana beli balik obligasi - IMBAL HASIL
Dana kelolaan Treasure Fund melonjak - Bapepam-LK selesaikan emiten obligasi yang gagal bayar
- Obligasi korporasi tahan penurunan NAB reksa dana
- EKSPOSE
Indo Premier targetkan 10.000 nasabah