Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Jasa & Transportasi
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Sabtu, 05/07/2008
Maskapai terancam bangkrut
JAKARTA: Perusahaan penerbangan nasional terancam tutup apabila tidak mampu menghadapi lonjakan harga minyak mentah dunia, menyusul 24 maskapai internasional yang telah bangkrut.
"Kenaikan harga minyak mentah tersebut sangat berdampak terhadap industri penerbangan internasional. Laporan International Air Transport Association (IATA) menyatakan 24 airlines bangkrut dan masuk file bankrupcy law," ujar Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (Inaca)Tengku Burhanuddin kepada Bisnis, kemarin.
Bankrupcy law, kata Burhanuddin, merupakan kondisi yang masuk dalam chapter eleven di Amerika Serikat di mana airlinesnya dapat mengajukan permohonan bangkrut.
Menurut dia, dampak dari kenaikan harga minyak mentah dunia terhadap industri penerbangan nasional akan dirasakan airlines di Indonesia ketika Pertamina menyesuaikan harga avtur.
Komponen avtur ini sangat dominan untuk airlines, katanya, memengaruhi biaya operasi yang menjadi lebih tinggi apabila harga terus menerus naik.
"Dampaknya akan sama dengan airlines di mancanegara seperti yang dilaporkan IATA. Kenaikan harga minyak tersebut dikhawatirkan bisa menyebabkan airlines bisa kolaps."
Guna mengatasi lonjakan harga minyak mentah dunia yang terus naik tersebut, kata Burhanuddin, airlines nasional harus melakukan berbagai upaya a.l. menyesuaikan kenaikan fuel surcharge, membatasi frekuensi penerbangan dan rute yang diterbangkan.
Untuk menghindari kondisi yang lebih buruk, kata Sekjen Inaca ini, pemerintah diminta untuk memberikan perhatian yang lebih karena apabila airlines nasional bangkrut, sangat berpengaruh terhadap perputaran ekonomi nasional.
"Karena itu kami menilai airlines, Inaca dan pemerintah perlu duduk bersama mendiskusikan hal ini, jangan malah menimbulkan beban baru, misalnya biaya bandara diberi potongan, pengurangan pajak dan menghentikan sementara izin penerbangan baru."
Upaya lain yang bisa dilakukan, kata Burhanuddin, adalah membuat aturan main jika ada airlines mau melakukan merger atau aliansi dalam negeri yang sampat saat ini belum ada aturan mainnya.
"Aturan main merger atau aliansi ini untuk airlines nasional belum ada karena itu perlu dibuat. Selain itu sebaiknya airlines membatasi jumlah frekuensi untuk rute yang ada," ujar Burhanuddin.
Penghematan
Guna mengatasi lonjakan harga minyak mentah dunia tersebut, maskapai penerbangan nasional kini melakukan berbagai upaya penghematan untuk menekan kenaikan biaya di antaranya membatasi bagasi dan mengefektifkan pemanduan pesawat.
Dirut Indonesia AirAsia Dharmadi mengatakan berlanjutnya kenaikan harga minyak dunia sangat memberatkan industri penerbangan dan berdampak langsung terhadap peningkatan biaya operasional.
Pihaknya berhati-hati untuk menaikkan harga tiket karena sangat sensitif bagi penumpang. Guna menghindari kenaikan harga tiket, Indonesia AirAsia melakukan berbagai upaya penghematan, di antaranya meringankan beban pesawat melalui pembatasan bagasi untuk menghemat pemakaian bahan bakar (avtur).
"Kenaikan harga minyak dunia yang mencapai US$145 per barel memang memberatkan penerbangan, salah satu upaya yang sudah dilakukan operator adalah dengan menaikkan fuel surcharge [biaya tambahan bahan bakar]. Ini sudah dilakukan maskapai nasional dan internasional, termasuk AirAsia," ujarnya.
Oleh Erwin Nurdin
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- LAYANAN
Arab Saudi cenderung pilih Malaysia - LAYANAN
STPB bidik turis China dan Korsel - LAYANAN
Ikapi minta penetapan harga buku - Kenaikan harga avtur ganggu iklim pariwisata
- Kategori tayangan bermasalah akan diperjelas