Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Jasa & Transportasi
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Senin, 07/07/2008
Lonjakan harga minyak untungkan pariwisata Asia
JAKARTA: Harga minyak mentah dunia yang terus melambung tinggi seharusnya dimanfaatkan sebagai peluang untuk mendongkrak pertumbuhan industri di negara-negara Asia, khususnya Indonesia.
Sapta Nirwandar, Sekjen Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, mengatakan meski memukul pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, di satu sisi kenaikan harga minyak mentah dunia tersebut membawa keuntungan tersendiri khususnya di sektor pariwisata.
"Melambungnya harga minyak otomatis menekan perekonomian global. Akibatnya, daya beli masyarakat global ikut menurun. Dari segi pariwisata, dalam keadaan ini wisatawan cenderung untuk mengalihkan tujuan wisatanya ke negara-negara Asia," katanya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.
Hal senada juga diungkapkan oleh Menteri Pelancongan, Kebudayaan, dan Alam Sekitar Sabah Datuk Masidi Manjun di sela-sela kunjungannya ke Indonesia untuk menemui agensi perjalanan/biro wisata dalam rangka promosi pariwisata Sabah.
Datuk mengatakan harga minyak dunia yang terus melambung tinggi menyebabkan wisatawan mancanegara lebih berminat mengunjungi negara-negara Asia.
Alasan yang paling mendasar, lanjutnya, adalah biaya wisata ke negara-negara Asia yang cenderung relatif jauh lebih murah dibandingkan dengan negara-negara lainnya.
"Seharusnya peluang ini menjadi berkah tersendiri bagi negara-negara Asia untuk menggenjot kunjungan wisatawan, sehingga mendukung pertumbuhan industri pariwisata Asia," katanya, akhir pekan lalu.
Sapta menuturkan negara penghasil minyak mentah dunia seperti Timur Tengah dan Rusia menikmati rezeki dari melambungnya harga minyak tersebut. Alhasil, wisatawan mancanegara (wisman) penghasil minyak bisa menjadi sasaran empuk andalan sektor pariwisata nasional.
"Indonesia adalah bagian dari dunia global yang tentu saja tidak bisa menghindarkan diri dari efek kenaikan harga minyak mentah dunia. Tapi dalam keadaan seperti ini, seharusnya kita bisa memanfaatkan celah-celah kecil guna menyiasati dampak negatif dari gejolak harga minyak," jelasnya.
Menurut Sapta, ketika harga minyak tinggi, mereka justru menjadi kaya raya, sehingga pengeluaran untuk berwisata juga kemungkinan akan makin tinggi.
Karena itu, Depbudpar pada tahun ini berani memasang target jumlah kunjungan wisman Rusia sebanyak 100.000 orang dan 200.000 orang untuk wisman Timur Tengah.
Dia menambahkan kendati Indonesia sendiri menghadapi masalah penurunan daya beli akibat kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM pada beberapa waktu lalu, biaya wisata di Tanah Air masih sangat bisa dijangkau oleh turis asing.
Oleh Maria Y. Benyamin
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- LAYANAN
Arab Saudi cenderung pilih Malaysia - LAYANAN
STPB bidik turis China dan Korsel - LAYANAN
Ikapi minta penetapan harga buku - Kenaikan harga avtur ganggu iklim pariwisata
- Kategori tayangan bermasalah akan diperjelas