Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Jasa & Transportasi


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 27/08/2008

MICE diprediksi tumbuh dua digit tahun depan

JAKARTA: Kalangan pelaku usaha di bidang meeting, incentive, convention & exhibition (MICE) optimistis industri MICE di Tanah Air akan tumbuh menjadi dua digit pada tahun depan.

Agenda politik seperti pemilihan umum yang akan berlangsung pada 2009 diyakini akan mendongkrak pertumbuhan industri tersebut hingga mencapai 20% dibandingkan dengan target pertumbuhan sampai akhir tahun ini.

Ketua Asosiasi Kongres dan Konvensi Indonesia (Indonesia Congress and Convention Association/ Incca) Igbal Alan Abdullah mengatakan target tersebut ditetapkan seiring dengan iklim meeting dan convention domestik yang semakin hidup karena adanya pemilihan umum.

"Semua partai akan melakukan konsolidasi menjelang pesta politik itu, mulai dari pertemuan partai dan konstituennya hingga pertemuan antarpartai dalam rangka konsolidasi. Karena itu, kami memprediksikan industri ini pada tahun depan akan tumbuh dua digit, yakni 20%," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Selain pesta politik, Igbal memperkirakan pertumbuhan industri MICE itu dipengaruhi juga oleh semakin banyaknya kebutuhan masyarakat terhadap ruang sebagai tempat peyelenggaraan acara (event). 

"Sekarang ini kebutuhannya banyak macam mulai dari kebutuhan bisnis, pendidikan, dan lain-lain. Jadi, selain agenda politik, adanya event-event di bidang lain juga turut mendukung pertumbuhan MICE," lanjutnya.

Igbal mengatakan selama ini industri MICE di Tanah Air tumbuh dalam kisaran yang cukup kecil, yakni sekitar 7%-10%. Namun, pada 1998, industri tersebut sempat mencapai masa puncaknya di mana hampir 1.000 event terselenggara dalam kurun waktu satu tahun.

Meski dalam empat tahun belakangan ini melaju dengan persentase yang cenderung kecil, yakni di bawah 10%, Igbal tetap optimistis akan perkembangan industri tersebut pada tahun depan. Apalagi, jika pemerintah mengabulkan permohonan industri untuk menjadikan 2009 sebagai tahun industri MICE.

Sampai akhir 2008, dia memprediksikan kurang lebih ada sekitar 450 acara. Dengan prediksi pertumbuhan sebesar 20%, jumlah acara pada 2009 diperkirakan akan naik menjadi 540 acara.   

Menurut dia, pihaknya selaku pelaku industri MICE telah menyatakan hal ini kepada pemerintah dan pada prinsipnya permohonan tersebut disetujui.

"Kami tetap optimistis dengan pertumbuhan industri ini, apalagi kalau pemerintah mau menetapkan 2009 sebagai tahun industri MICE. Oleh karena itu, keputusan itu tetap kami tunggu."

Masih menghambat


Igbal mengakui sejumlah persoalan masih akan menjadi penghambat bagi pertumbuhan industri tersebut di dalam negeri, antara lain ketersediaan ruang sebagai tempat penyelenggaraan acara.

Tingginya kebutuhan ruang, lanjut dia, sering tidak diimbangi pasokan tempat penyelenggaraan yang tersedia, khususnya untuk event-event besar yang membutuhkan tempat yang lebih luas.

Di sisi lain, sumber daya manusia (SDM) di sejumlah daerah sasaran MICE belum merata karena terpusat di daerah-daerah tertentu, seperti Jakarta dan Bali. Akibatnya, daerah lain yang sebenarnya memiliki potensi sebagai tempat pelaksanaan MICE kurang diberdayakan sebagaimana mestinya karena kekurangan SDM.

Terkait dengan keterbatasan tempat penyelenggaraan (venue), Direktur MICE Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Nia Niscaya yang dihubungi terpisah mengatakan kebutuhan untuk membangun sebuah convention hall untuk kegiatan kongres dan konvensi berskala besar bukan merupakan prioritas.

Hal itu disebabkan oleh rata-rata peserta konvensi selama beberapa tahun terakhir yang cenderung hanya berjumlah 250-599 peserta, sesuai dengan data stastistik dari Internasional Congress & Convention Association (ICCA).

"Itu kalau untuk kongres dan konvensi. Kalau untuk ekshibisi, mungkin kita perlu menambah ruang karena biasanya penyelenggaraan ekshibisi membutuhkan venue yang lebih besar," sambungnya. (maria.benyamin@bisnis.co.id)

Oleh Maria Y. Benyamin
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain