Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Jasa & Transportasi


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Kamis, 28/08/2008

Pengerah TKI butuh lebih banyak kredit

MALANG: Perbankan diimbau untuk menyalurkan lebih banyak lagi kredit ke sektor jasa pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri guna mendidik calon TKI yang berkualitas.

Arifien Habibie, staf ahli Menko Perekonomian, menuturkan pembiayaan perbankan diperlukan selain untuk membiayai pemberangkatan TKI, juga untuk mendidik mereka lewat balai latihan kerja (BLK) milik perusahaan pengerah jasa tenaga kerja Indonesia (PPJTKI).

"Bagiamana mau mendidik calon TKI menjadi lebih berkualitas kalau kredit dari bank tidak turun. Padahal Inpresnya sudah ada, yakni No. 6/2006 tentang penempatan TKI dan pembiayaan TKI. Inpres itu sudah berjalan selama dua tahun," ujarnya dalam temu wicara Menyukseskan Kebijaksanaan Reformasi Sistem Penempatan dan Perlindungan TKI di Malang, Jatim, pekan ini.

Karena itu, tutur Arifien, perbankan mestinya lebih cepat dalam memberikan pelayanan. "Harus ada inovasi dari bank. Mereka tidak hanya terpaku dan mengacu pada skema kredit konvensional."

Sebaliknya, kata Welem Hemfri Elim Kusuma, Direktur PT Assamatama Karya Mandiri Surabaya, bank-bank di Taiwan justru berlomba-lomba mendanai TKI yang bekerja di negara tersebut. "TKI merupakan pasar potensial karena perbankan di sana bisa menetapkan kredit sebesar 30% dengan biaya provisi 20%."

Setidaknya ada empat bank di Taiwan yang berlomba-lomba memberikan kredit bagi TKI yakni Chinatrust Bank, First Bank, Hua Nan Bank, dan Sunny Bank.

Lebih selektif


Kalangan perbankan memang sangat berhati-hati dalam menyalurkan kredit pada TKI. Pertimbangannya, kredit TKI banyak yang macet.

Bambang Saptoaji, Wakil Pemimpin BNI Wilayah 06 Surabaya, menambahkan pemberian kredit langsung terhadap TKI sebenarnya telah dilakukan BNI.

Namun, realisasinya tidak bisa cepat karena mencari calon debitor TKI yang bankable tidak mudah. Dalam uji coba di Mataram selama dua bulan, hanya diperoleh 100 nasabah.

Denny Admiral Nasir, Vice President Bank Mandiri Micro Business Group, mencontohkan penyebab macetnya kredit TKI di antaranya, TKI yang rencananya diberangkatkan, ternyata tidak jadi atau dipulangkan majikan.

Bank sebenarnya berusaha menagih kredit lewat user atau majikan. Namun, di beberapa negara tujuan TKI, seperti Malaysia, tidak dibolehkan gaji dipotong oleh majikan untuk alasan apa pun.

"Malaysia juga melarang bank-bank Indonesia membuka cabang di sana, padahal di sini mereka boleh membuka bank."

M. Edy Yusuf, Kabid Analisa Neraca Pembayaran pada Kantor Menko Bidang Perekonomian, menuturkan untuk mempercepat penyaluran kredit bagi TKI, Tim Pokja Pembiayaan TKI juga tengah menggodok skema penyaluran kredit bagi TKI.

Dalam rumusan Tim Pokja, kata Edy yang juga anggota Tim Pokja Pembiayaan TKI, ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan untuk mempercepat penyaluran kredit ke TKI.

Perinciannya ada subsidi dari pemerintah, asuransi penjaminan kredit yang preminya ditanggung pemerintah, serta penjaminan penuh kredit TKI oleh pemerintah. (k24) (redaksi@bisnis.co.id)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain