Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Jasa & Transportasi
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 29/08/2008
Bisnis jasa outsourcing diperkirakan tumbuh 40% tahun depan
JAKARTA: Bisnis penyedia jasa alih daya (outsourcing) di Tanah Air diperkirakan tumbuh 30%-40% pada tahun depan, menyusul semakin tingginya permintaan terhadap tenaga kerja alih daya untuk memenuhi berbagai bidang pekerjaan.
Pertumbuhan bisnis tersebut juga dipengaruhi oleh semakin terbukanya potensi aliansi dengan perusahaan luar negeri, guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja alih daya yang juga sedang tumbuh di luar negeri.
Ketua Umum Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (Abadi) Sapto Satrioyudo mengatakan pertumbuhan bisnis outsourcing di Tanah Air bisa terlihat dari beberapa faktor, a.l. dari sisi jumlah pekerja yang terserap, jumlah pengguna jasa, beragamnya posisi pekerjaan, dan semakin meluasnya tipe industri yang menggunakan jasa tenaga kerja outsourcing.
"Apabila dilihat dari faktor-faktor di atas, saya memprediksikan industri ini akan terus berkembang," ujarnya kepada Bisnis di sela-sela seminar Bedah dan Kupas Tuntas Outsourcing, Solusi Strategis dan Implementasinya kemarin.
Perusahaan yang menggunakan jasa outsourcing saat ini mencapai 10%. Pertumbuhan ini, sambungnya, cukup signifikan mengingat pertumbuhan di luar negeri secara umum mencapai 30%.
Dari sisi posisi yang ditawarkan, lanjutnya, jenis pekerjaan yang diserap oleh tenaga alih daya juga semakin beragam. Tenaga alih daya tidak hanya sebatas diserap untuk pekerjaan front liner seperti sales dan marketing.
Dari tipe industri, pekerja alih daya juga sudah mulai diserap oleh beragam industri baru yang sebelumnya sama sekali belum tersentuh, seperti perbankan, telekomunikasi, jasa & service, serta logistik.
"Dulu hanya mining dan oil company. Tetapi coba lihat sekarang, hampir semua industri sudah mulai menggunakan tenaga alih daya sebagai alternatif," sambungnya.
Dia memperkirakan kini terdapat lebih dari 2.000 perusahaan yang bergerak di bidang itu.
Sampai akhir 2008, dia memperkirakan industri ini masih akan tumbuh, kendati masih 'malu-malu' karena diwarnai oleh pro dan kontra dari berbagai pihak, serta regulasi yang belum komplet.
Tantangan outsourcing
Sapto menambahkan industri penyedia tenaga kerja alih daya juga masih menghadapi tantangan a.l. keberanian untuk ekspansi ke dunia luar, di tengah pro kontra di dalam negeri yang masih belum usai juga.
Outsourcing di Indonesia, ujarnya, masih dipandang sebagai strategi konsep, belum dijadikan alat atau sarana yang bertujuan menekan angka pengangguran dan peningkatan devisa bagi negara.
Kendati masih diwarnai pro dan kontra, penggunaan jasa tenaga alih daya tidak bisa dihindari, sebab merupakan strategi penting bagi pelaku bisnis untuk terus bertahan di tengah kondisi ekonomi yang cenderung fluktuatif.
"Semakin banyak perusahaan yang akhirnya menggunakan tenaga kerja alih daya, karena itu satu-satunya cara untuk bertahan di tengah keadaan ekonomi sekarang ini," katanya.
Hal senada juga disampaikan oleh Itfida Yasar, penasihat Abadi. Menurut dia, bisnis outsourcing sebenarnya berpotensi besar untuk memperluas kesempatan kerja di dalam negeri dan mengurangi angka pengangguran.
Asosiasi, lanjut Itfida, juga mendorong pemerintah untuk menjual tenaga kerja alih daya ke luar negeri, mengingat saat ini tren penggunaan tenaga alih daya juga sedang mendunia.
A. Kemalsjah Siregar, Spesialis Hukum Ketenagakerjaan dari Kemalsjah Associates, menambahkan dari aspek hukum, outsourcing sebenarnya tidak akan menjadi persoalan asalkan berjalan sesuai dengan ketentuan dan undang-undang yang berlaku, terutama penentuan sektor inti dan penunjang. (maria. benyamin@bisnis.co.id)
Oleh Maria Y. Benyamin
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- LAYANAN
RI turun peringkat di ajang ASC - Pemerintah berkeras terapkan SKB
- Manajemen belum lapor ke Depnakertrans
RAPP akan PHK 1.000 karyawan - LAYANAN
Badung kembangkan homestay - LAYANAN
Depag diminta bereskan masalah haji