Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Jasa & Transportasi


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 05/09/2008

Produsen rokok siasati pembatasan beriklan

JAKARTA: Pengiklan produk rokok menyiasati pembatasan beriklan dengan menjadi sponsor (sponsorship) beragam acara di televisi, sehingga tampilan iklan langsung produk tersebut berkurang.

Berdasarkan data Nielsen Advertising Services dari Nielsen Media Research Indonesia, belanja iklan produk rokok di televisi, koran, majalah, dan tabloid, sepanjang semester I/2008 turun 7% menjadi Rp699 miliar dibandingkan dengan Rp748 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Sebagian besar atau Rp615 miliar dari total Rp748 miliar belanja iklan rokok tersebut dibelanjakan pada media televisi.

Namun, nilai belanja iklan produsen rokok tersebut belum memperhitungkan uang yang dikeluarkan untuk mendukung beragam acara yang tayang di televisi lewat program sponsorship.

"Nilai tersebut memang tidak memperhitungkan program-program yang disponsori oleh produsen rokok. Itu kami hitung murni dari iklan yang ditayangkan saja," ujar Maika Randini, Senior Manager Business Development Nielsen Media Research Indonesia, belum lama ini.

Dia menyebutkan produsen rokok memang berupaya menyiasati ketatnya peraturan beriklan untuk produk rokok, dengan menjadi sponsor acara musik atau olahraga di televisi.

"Iklan rokok kan dibatasi. Untuk menyiasati hal itu, industri rokok cenderung kreatif dalam beriklan yaitu dengan menjadi sponsor acara-acara tertentu. Kami tidak menghitung sponsorship seperti itu dalam belanja iklan ini."

Kendati mengalami penurunan, nilai belanja iklan industri rokok berada di urutan kelima sebagai pengiklan terbesar sepanjang semester I/2008.

Djarum Super juga masih menjadi produk yang mendatangkan pendapatan bagi media pengiklan. Nilai belanja iklan produk rokok itu bahkan naik hingga 107% menjadi Rp119 miliar pada paruh pertama tahun ini dibandingkan dengan Rp58 miliar periode yang sama 2007.

Sebagian besar atau senilai Rp110 miliar dari total belanja iklan Djarum Super tersebut dibelanjakan pada media televisi. Semester I tahun lalu, belanja iklan produk tersebut di televisi hanya senilai Rp51 miliar.

Adapun, nilai belanja iklan Gudang Garam International, produk milik PT Gudang Garam Tbk, justru turun tajam. Nilai belanja iklan produk tersebut turun hingga 70% menjadi Rp19 miliar dibandingkan dengan Rp66 miliar pada semester I/2007.

Oleh Yeni H. Simanjuntak
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain