Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Jasa & Transportasi
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 03/10/2008
'TV nasional itu supermarket, TV berbayar itu butik'
JAKARTA: Era penyiaran digital diperkirakan akan membuka berbagai peluang usaha di berbagai bidang, baik itu rumah produksi, pembuatan aplikasi audio, video, multimedia, industri sinetron, film, hiburan, dan komedi.
Masyarakat juga memiliki kesempatan lebih banyak untuk menjadi pemasok barang dan jasa bidang radio dan televisi digital, maupun pembuatan program aplikasi.
Salah satu peluang usaha di bidang jasa yang diperkirakan ikut menjamur adalah penyedia isi siaran (content provider).
Untuk mengetahui peluang usaha di bidang jasa tersebut, Bisnis mewawancarai Riza Primadi, News Director PT Adi Karya Visi, salah satu perusahaan penyedia content di Tanah Air. Berikut petikannya.
Bagaimana Anda melihat perkembangan industri jasa penyedia isi siaran (content provider) di Tanah Air ke depannya, menyusul rencana era digitalisasi penyiaran?
Industri ini akan berkembang pesat. Apalagi telah direncanakan era penyiaran digital. Pasalnya, era digitalisasi nanti akan memisahkan perusahaan content dan perusahaan distribusi. Mau tidak mau perusahaan harus memilih jadi penyedia content atau distribusi, gak boleh dibikin jadi satu.
Itu tren internasional yang berlaku. Undang-undang memang belum mewajibkan seperti itu tapi kalau dilihat dari gagasannya, arahnya ke situ.
Apakah selama ini, perusahaan [televisi] masih memainkan peran ganda, baik sebagai penyedia content maupun perusahaan distribusi?
Ya. Sekarang televisi nasional melakukan keduanya sekaligus, satu sebagai perusahaan distribusi melalui relay station yang dibangun, kedua sebagai penghasil content.
Berarti akan muncul begitu banyak perusahaan penyedia content untuk menjawab suplai content terhadap televisi?
Tepat sekali. Sebenarnya beberapa televisi sudah mulai melakukan itu, tapi masih belum seperti kami [PT Adi Karya Visi] yang memang benar-benar memfokuskan diri pada penyedia content.
Berlakunya sistem digitalisasi membuka peluang untuk jasa content. Bayangkan saja sekarang ini ada 17 channel, 12 televisi nasional dan lima televisi lokal. Kalau dikalikan lima saja, berarti ada lebih dari 60 program. Itu kan butuh content yang bisa diisi oleh content provider atau production house [PH] content.
Ada berapa perusahaan penyedia content yang sudah eksis?
Saya rasa belum ada. Adi Karya Visi masih merupakan satu-satunya perusahaan penyedia content. Tapi dengan melihat perkembangan industri penyiaran ini ke depannya, sebentar lagi banyak yang akan menyusul.
Selain era digitalisasi penyiaran, adakah faktor lain yang turut memengaruhi perkembangan industri jasa penyedia content?
Menurut saya, perkembangan televisi berbayar saat ini bisa ikut mendorong pertumbuhan industri tersebut. Penetrasi televisi berbayar di Indonesia masih kecil, baru 2%.
Kalau kita lihat, alasan kenapa sih orang cenderung berlangganan televisi berbayar? Pertama, karena sebagian besar pelanggan televisi berbayar yang notabene adalah kelas menengah berpendidikan merasa bahwa televisi yang gratis tidak lagi memenuhi kebutuhan, karena itu mereka lari ke televisi berbayar.
Nah, televisi berbayar itu apa intinya? TV berbayar itu harus punya channel yang ditujukan untuk masing-masing kelompok pemirsa. Ibaratnya kalau televisi nasional itu supermarket, televisi berbayar itu butik.
Seperti apa sistem kerja penyedia content?
Kalau penyedia content itu ada tiga bisnis utama. Pertama, produksi sendiri [in house]. Kedua, apa yang disebut dengan commissioning. Commissioning itu gagasannya dari kita, terus diserahkan ke orang lain untuk menggarap (production house). Ketiga, akuisisi dalam arti kita beli program yang sudah jadi.
Makanya content provider itu kalau dari kacamata content adalah content aggregator, karena kita mengagregat content atau mengumpulkan content baik dalam bentuk membuat sendiri, menyuruh orang membuat atau membeli program. Nah, ini bisa dijual lagi atau dipaket ulang dalam bentuk channel atau dijual kembali dalam bentuk program.
Lebih luas mana channel atau program?
Skala yang lebih besar jelas channel, kalau dalam bentuk program yah jadinya PH. Dalam konteks membuat dan menjual program secara lepas-lepas, itu PH namanya, tapi ketika kita melakukan dalam bentuk channel namanya content provider.
Nah, tinggal perusahaan yang bersangkutan memilih, mau diarahkan ke PH atau content provider.
Kalau dari segi keuntungan, untung menyuplai dalam bentuk channel atau program?
Secara skala ekonomi, volume channel memang lebih besar, tapi prinsipnya begini. Justru harus dimulai dari channel sebagai output utamanya.
Pewawancara: Maria Y. Benyamin
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- Jamsostek diminta siapkan dana bergulir
- Stasiun TV bersaing dengan hiburan alternatif
- LAYANAN
Hunian hotel di Padang capai 42,14% - LAYANAN
Malaysia ajak Sumut kerja sama wisata - LAYANAN
Perhumas ikut promosikan RI