Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Jasa & Transportasi
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Sabtu, 04/10/2008
Bisnis pramuwisma musiman pada saat Lebaran
Krisis pembantu rumah tangga (PRT) atau pramuwisma selama Lebaran memang sudah menjadi persoalan klasik, terutama bagi keluarga di kota-kota besar. Kebutuhan dan keinginan mudik yang juga menjadi milik para pembantu rumah tangga, mau tak mau membawa persoalan tersendiri bagi para majikan yang sudah terbiasa menggantungkan harapan pada jasa pekerja rumah tangga tersebut.
Tak heran, jauh hari menjelang hari raya, rata-rata majikan mulai sibuk wira-wiri mendatangi agen penyalur pembantu rumah tangga untuk mencari pembantu pengganti selama masa tertentu. Agen penyalur itu menjadi mediator untuk mempertemukan kebutuhan para majikan alias pengguna jasa dengan para pembantu yang siap menjual jasanya.
Henny, seorang majikan yang ditinggal mudik oleh pembantunya, terpaksa harus ekstra keras mencari pembantu baru yang siap menjalankan pekerjaan rumah. Pembantu baru yang akan bekerja untuk sementara waktu, hingga pembantu 'tetap' kembali dari kampung halamannya.
Penyalur pembantu reguler beramai-ramai mengubah wajah menjadi penyedia pembantu khusus Lebaran (inval).
Alasannya pun bermacam-macam. Mungkin ada yang menekuni bisnis tersebut karena persoalan untung semata.
Namun, berbeda dengan Pak Gito dan Bu Gito, sepasang suami istri yang menekuni bisnis penyalur pembantu rumah tangga di bawah bendera Yayasan Cendana Raya atau yang lebih dikenal dengan Yayasan Bu Gito.
Keduanya mengaku mengubah bisnis dari penyedia pembantu rumah tangga reguler menjadi penyalur pembantu inval hanya karena melihat tingginya kebutuhan terhadap pembantu jenis ini.
Profesi sampingan
Di sisi lain, penjual jasa yang ingin mengisi kebutuhan sebagai pembantu inval tersebut semakin meluas, tak terbatas pada orang yang memang mata pencariannya adalah pembantu.
Ibu rumah tangga, pelajar, bahkan mahasiswa kini mulai melirik profesi menjadi pembantu musiman sebagai pekerjaan sampingan untuk sekadar mengisi waktu liburan Lebaran dan mendapatkan tambahan penghasilan.
Tawaran imbalan yang tinggi alias jauh dari tarif normal menjadi daya tarik tersendiri bagi para penjual jasa. Para penjual jasa tersebut rela membuang waktunya hanya demi menangguk sedikit untung.
"Enggak apa-apa waktu terbuang dikit yang penting imbalannya tinggi," begitu penuturan Sri, seorang ibu rumah tangga yang menjelma menjadi pembantu inval pada musim Lebaran.
Sementara dari sisi yayasan, alih-alih mendapatkan untung tinggi, Pak Gito justru mengaku keuntungan yang didapat jauh di bawah ketika yayasannya melakoni bisnis penyedia pembantu untuk periode reguler.
"Ini hanya salah satu bentuk sosial saja, karena melihat tingginya kebutuhan pengguna jasa dan penjual jasa selama Lebaran," kata Pak Gito.
Pada hari-hari biasa, jumlah pembantu rumah tangga yang berhasil disalurkan mencapai 200 orang per hari, sedangkan pada musim Lebaran (untuk kurun waktu sebulan), agen penyalur PRT tersebut hanya menyalurkan 1.000 orang. Lalu, bagaimana perhitungan keuntungan yang didapat?
Gaji atau upah yang diberikan kepada pembantu memang hasil negosiasi dengan pihak pengguna jasa dan semua gaji tersebut merupakan hak dari penjual jasa, tanpa dipotong oleh pihak yayasan.
Yayasan tersebut mendapatkan keuntungan dari pengguna jasa. Untuk periode Lebaran, misalnya, tarif yang dipatok adalah Rp500.000 per orang. Uang itu lantas dibagi-bagi lagi, 50% atau sekitar Rp250.000 untuk membayar jasa sponsor, Rp50.000 untuk konsumsi dan operasional para pembantu, dan Rp50.000 untuk biaya iklan. Untung bersih yang berhasil diraup hanya Rp150.000.
Berbeda dengan periode reguler. Para pengguna jasa justru membayar Rp760.000 dengan komposisi perhitungan yang tak berbeda dengan periode Lebaran. Alhasil, keuntungan yang diraup jauh lebih besar. Mengapa?
"Risiko yang kami [pihak yayasan] pegang lebih besar, tanggung jawabnya juga beda, karena waktu kerja yang cenderung lebih lama, sehingga lebih mahal," begitu penuturan Pak Gito.
Permintaan stagnan
Menurut Pak Gito, tahun ini permintaan terhadap pembantu inval mencapai 1.008 orang khusus PRT. Namun, apabila digabungkan dengan jasa lainnya, seperti sopir, baby sitter, satpam, dan tukang kebun, jumlahnya bahkan sudah mencapai 1.400 orang, tidak berbeda jauh dengan tahun lalu.
Dia menuturkan permintaan yang begitu tinggi terhadap tenaga kerja jenis ini, secara langsung membuka peluang bagi terciptanya usaha di bidang jasa tersebut.
Dengan semakin banyaknya pemain di bisnis ini, maka persaingan menjadi hal yang tak bisa dihindarkan lagi. Di samping itu, kondisi ekonomi yang cenderung tidak menentu akhir-akhir ini mau tidak mau mengikis sedikit demi sedikit tingkat kebutuhan pengguna jasa yang mau menggunakan pembantu inval.
Kendati bisnis ini berjalan stagnan, Pak Gito dan Bu Gito tetap menekuninya dengan senang hati dan penuh keseriusan. "Anggap saja ini kerja sosial pada hari Lebaran," tegas Pak Gito lagi.
Setelah berhasil menyalurkan 1.000 orang untuk musim Lebaran kali ini, Yayasan Cendana Raya pun siap mengembalikan wajah lamanya.
Mulai 6 Oktober mendatang, seiring dengan berakhirnya masa Lebaran, yayasan itu kembali melakoni bisnis utamanya sebagai penyalur pembantu rumah tangga reguler hingga Lebaran tahun depan datang. (maria.benyamin@bisnis.co.id)
Oleh Maria Y. Benyamin
Wartawan Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- Jamsostek diminta siapkan dana bergulir
- Stasiun TV bersaing dengan hiburan alternatif
- LAYANAN
Hunian hotel di Padang capai 42,14% - LAYANAN
Malaysia ajak Sumut kerja sama wisata - LAYANAN
Perhumas ikut promosikan RI