Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Jasa & Transportasi


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Jumat, 10/10/2008

Pengaruh krisis AS terhadap wisata kecil

JAKARTA: Krisis keuangan yang melanda Amerika Serikat (AS) diprediksi tidak akan berpengaruh signifikan terhadap perkembangan industri pariwisata di Tanah Air, sebab AS tidak termasuk dalam kategori pasar terbesar bagi Indonesia.

"Tentu ada pengaruh tetapi tidak begitu signifikan. Amerika [AS] bukan pasar terbesar kita," ujar Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia (BPPI) Pontjo Sutowo, baru-baru ini.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Statistik Keuangan, Teknologi Informasi, dan Pariwisata Sasmito Hadi Wibowo.

Menurut dia, apabila dilihat berdasarkan statistik kunjungan wisatawan mancanegara asal AS, kontribusi wisatawan dari negara tersebut selalu berada dalam level yang cukup stabil sejak awal tahun.

Wisatawan asal Australia, lanjut dia, hanya menyumbang angka kunjungan dalam kisaran 100.000-120.000 orang sejak awal tahun hingga Agustus. "Dengan melihat statistik ini, saya lihat krisis yang mengancam mereka tidak akan begitu memengaruhi pariwisata kita khususnya dari segi kunjungan wisman," jelasnya.

Sasmito mengakui Amerika Serikat memang masih masuk ke dalam 10 besar kontributor wisatawan mancanegara bagi Indonesia. Kendati demikian, berdasarkan statistik Badan Pusat Statistik per Agustus, posisi Amerika berada di urutan kesembilan.

Posisi teratas masih dipegang Singapura menyusul Malaysia, Jepang, Australia, Korea Selatan, China, Taiwan, dan Inggris.             

Pontjo menambahkan krisis Amerika tersebut akan berpotensi menyebabkan ekonomi secara global melambat. Hal itu, lanjutnya, akan memengaruhi potensi ekonomi hampir semua negara.

Ketika disinggung apakah hal ini akan memengaruhi potensi pasar wisata Indonesia dari negara-negara Asia lainnya, Pontjo enggan berkomentar secara detail.

"Secara ekonomi mungkin terpengaruh, tetapi kalau dilihat dari segi pariwisatanya, rasanya kita harus memandang hal tersebut lebih komprehensif," tuturnya.

Paling kecil


Pariwisata, sambung Pontjo, hanya terkena dampak paling kecil dibandingkan dengan sektor lainnya. Namun, kondisi ini secara tidak langsung akan cukup memengaruhi daya saing dari masing-masing negara.

"Akan ada perubahan karakter karena daya saing ikut terganggu. Oleh karena itu, kita dituntut untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan karakter tersebut," tegasnya.

Sebaliknya, pendapat berbeda disampaikan Sasmito. Ancaman resesi global yang berawal dari Amerika Serikat secara lambat laun akan memengaruhi kondisi perekonomian di semua negara.

Imbas resesi global yang menimpa hampir semua negara tersebut secara langsung akan memengaruhi daya beli masyarakat.

"Jika daya beli terus tertekan, secara tidak langsung pasar wisata kita ikut berpengaruh karena kontributor kunjungan wisman untuk negara kita berasal dari negara yang beragam," jelasnya.

Sebelumnya dalam rapat kabinet dengan para menteri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sempat mengingatkan Menteri Kebudayaan & Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik untuk terus menghidupkan sektor pariwisata di Tanah Air.

Sektor pariwisata, kata SBY, merupakan sektor yang mampu bertahan di tengah gejolak perekonomian AS yang ikut memukul perekonomian semua negara, termasuk Indonesia. (maria.benyamin@bisnis.co.id)

Oleh Maria Y. Benyamin
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • SKB empat menteri yang menuai kontroversi
  • LAYANAN
    Kunjungan wisman ke Sumut naik
  • LAYANAN
    Bandung kaji izin hotel baru
  • Kerja sama korporat tekan biaya medical check up