Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Sabtu, 10/05/2008

Bank Eksekutif tidak rugi lagi

JAKARTA: PT Bank Eksekutif Internasional Tbk membukukan laba bersih Rp713 juta  pada Desember 2007 setelah sebelumnya mengalami rugi bersih Rp13,63 miliar.

"Kinerja kami selama 2007 sangat baik. Hal tersebut juga didukung dengan meningkatnya pendapatan bunga bersih serta hasil aktiva yang diambil alih. Untuk laba bersih kuartal I/2008 baru dipublikasikan Juni," kata Presdir Bank Eksekutif Tonny Antonius pada rapat umum pemegang saham tahunan di Jakarta, kemarin.

Dia menambahkan penyaluran kredit meningkat menjadi Rp895,44 miliar dari Rp860,76 miliar pada 2006. Perseroan menargetkan pertumbuhan kredit 15% atau sekitar Rp1,08 miliar, 62% di antaranya kredit konsumsi.

Tonny menambahkan akan meningkatkan kerja sama dengan lembaga pembiayaan dengan memfokuskan pada usaha kecil menegah (UKM), kredit pemilikan rumah (KPR), dan kredit konstruksi.

"Sektor UKM memiliki daya tahan dan memberikan margin yang lebih besar. Kami  akan terus mengembangkannya, tetapi tetap dalam konsep kehati-hatian," katanya.

Bank juga akan memperbaiki biaya dana dengan menurunkan porsi deposito menjadi 69,75% dari 75%.

"Hal itu dicapai melalui peningkatan produk tabungan yang didukung oleh promosi,"  ungkapnya.

Terkait dengan rasio kredit bermasalah (non performing loans-NPL), Bank Eksekutif  menargetkan penurunan menjadi 2,95% tahun ini, dari 14% 2007.

"Penyebab kenaikan NPL tahun lalu yakni perbedaan pandangan dengan BI dalam menilai kelancaran pembayaran debitor," katanya.

Tonny menambahkan buruknya disiplin administrasi debitor merupakan penyebab  masuk dalam  kategori itu. Dia mengungkapkan  kredit bermasalah berasal dari  14 debitor senilai  Rp142 miliar atau 15,82% dari posisi kredit tahun lalu Rp895,44 miliar. (18)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • PLN negosiasi pinjaman US$1,3 miliar
  • Apresiasi dolar AS tekan emas
  • BNI & Stanchart amankan pasokan dolar AS
  • PORTFOLIO
    DBS Indonesia masuk segmen ritel
  • Kredit masuki fase perlambatan
  • PORTOFOLIO
    BRI bantu 4 Puskesmas
  • PORTOFOLIO
    Legislator nilai BI lemah
  • Mandiri uji tuntas akuisisi asuransi
  • Klaim asuransi minyak dan gas turun