Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 09/07/2008

Saptaindra dapat utang US$300 juta

JAKARTA: Kontraktor pertambangan batu bara PT Saptaindra Sejati, anak perusahaan PT Adaro Energy Tbk, mendapat komitmen pinjaman sindikasi US$300 juta atau setara dengan Rp2,76 triliun dari 10 bank.

Utang bank tersebut akan digunakan oleh Saptaindra untuk membiayai kembali sebagian utangnya senilai US$200 juta kepada PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Bukopin Tbk, dan PT Bank Ekspor Indonesia.

"Kami akan menggunakan pinjaman selebihnya untuk belanja modal baru US$80 juta dan modal kerja US$20 juta," tutur Andre Johannes Mamuaya, Direktur Pengembangan Bisnis Saptaindra sekaligus Direktur Corporate Affairs Adaro Energy, kemarin.

Menurut dia, Saptaindra semula berencana mencari dana segar dari penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) tahun ini. Namun, waktu pelaksanaan bersamaan dengan IPO Adaro Energy, sehingga IPO Saptaindra ditunda menjadi semester II tahun depan, sehingga kebutuhan pendanaan itu dipenuhi dari pinjaman bank.

Saptaindra, ujarnya, akan menarik pinjaman sindikasi itu pada akhir Juli, setelah pencatatan saham Adaro di Bursa Efek Indonesia yang semula dijadwalkan pada 16 Juli 2008.

Pemberi pinjaman sindikasi itu terdiri dari tiga bank lokal dan selebihnya bank asing. Tiga bank lokal tersebut adalah Bank Mandiri, Bank Bukopin, dan Bank Ekspor Indonesia. Tujuh bank asing yang akan mengucurkan utang ke Saptaindra adalah Sumitomo Mitsui Banking Corporation, DBS Bank, Bank of Tokyo-Mitsubishi, ANZ Bank, Calyon Bank, UOB, dan Standard Chartered Bank. "Bunga pinjaman itu setara London interbank offered rate plus 3,25%," tutur Andre.

IPO Saptaindra direncanakan sejak 2007. Waktu itu, perusahaan tersebut menunjuk dua penjamin pelaksana emisi yakni PT Danareksa Sekuritas dan PT BNP Paribas. Jumlah dana yang akan diraup dari IPO mencapai US$300 juta-US$350 juta.

Berdasarkan prospektus IPO Adaro Energy disebutkan pemegang saham Saptaindra adalah Adaro Energy sebesar 85,92% dan selebihnya dimiliki oleh Joyce Corner International Ltd sebanyak 14,08%.

Pada akhir Januari 2008, pendapatan Saptaindra mencapai Rp121,36 miliar, laba usaha Rp5,55 miliar, dan laba bersih Rp9,61 miliar.

Perhatikan prospektus


Sementara itu, Dirut Bursa Efek Indonesia Erry Firmansyah mengatakan calon pemegang saham Adaro Energy diminta memerhatikan isi prospektus penawaran umum perdana karena segala risiko termasuk yang terkait hukum menjadi risiko pribadi.

Keluarnya pernyataan efektif bagi Adaro untuk mencatatkan sahamnya di bursa bukan berarti segala kasus hukum yang dihadapinya lantas menghilang.

"Tidak ada emiten yang 100% bebas dari kasus hukum. Itu semua seharusnya dijelaskan di dalam prospektus, jadi calon pemegang saham harus paham betul isi prospektus karena segala risiko menjadi tanggung jawab pribadi," ujarnya di sela-sela pencatatan perdana saham PT Destinasi Tirta Nusantara Tbk, kemarin.

Adaro Energy menawarkan sebanyak 11,14 miliar saham atau 34,83% dari total saham yang disetorkan perseroan dengan harga Rp1.100 per saham. Penawaran dilakukan serentak di empat kota yakni Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Medan kemarin. Khusus di Ibu Kota, penawaran berlangsung hingga 10 Juli.

Penawaran saham perdana Adaro Energy yang digelar di Medan kemarin kurang diminati. Dari kegiatan tersebut sejak awal hingga penutupan sesi I, peminat saham produsen batu bara ini cukup minim.

Vice President PT Danatama Makmur, perusahaan penjamin pelaksana efek, Stefeen Fang mengatakan minimnya minat investor lokal ini disebabkan edukasi masyarakat di daerah tentang pasar modal masih kurang, sehingga pihaknya masih harus memberikan informasi serta penjelasan kepada para calon investor bagaimana tata cara pemesanan saham dan sebagainya.

Adaro mengantongi pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pada 4 Juli. Induk perusahaan pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia itu menargetkan dapat mencatatkan sahamnya di bursa pada 16 Juli.

Terkait dengan tanggal pencatatan, Erry mengatakan akan meminta Bapepam-LK untuk menjadwal ulang pencatatan saham Adaro dan PT Hotel Mandarine Regency.

"Kami mengusulkan agar dipisahkan karena nilai IPO Adaro dan Mandarine beda jauh. Kami khawatir Mandarine akan kehilangan momentum," ujarnya. (k5) (pudji.lestari@bisnis.co.id/wisnu.wijaya@bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari & Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Standar perdagangan alternatif berlaku 2009
  • MEDIASI
    BI tinjau izin akuisisi BII
  • MEDIASI
    Laba Permata tumbuh 40%
  • Rabobank tetap garap agribisnis