Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Rabu, 09/07/2008
Total pendapatan premi asuransi jiwa tumbuh 61,1%
Pemilik unit-linked perbesar dana investasi
JAKARTA: Di tengah kondisi pasar saham yang bergejolak, pemilik dana di unit-linked justru memanfaatkannya untuk memperbesar investasi pada produk itu.
Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Eddy Berutu mengatakan kecenderungan peningkatan unit-linked disebabkan produk ini memberikan berbagai pilihan penempatan dana yang disesuaikan dengan keinginan tertanggung dan sifatnya yang jangka panjang.
"Nasabah berinvestasi di unit-linked untuk jangka panjang dan produk itu memberikan fleksibilitas," ujarnya kepada Bisnis pekan ini.
Selain itu, tuturnya, tertanggung dimungkinkan memecah dana investasi di beberapa instrumen finansial seperti deposito, saham, dan obligasi.
"Di kala saham bergejolak, beberapa obligasi imbal hasilnya baik. Itu yang membuat beberapa investor berpikir untuk merelokasi aset mereka di luar asuransi, masuk ke produk ini," tambah Eddy.
Unit-linked merupakan salah satu produk asuransi jiwa yang menawarkan kepada pemegang polis untuk menempatkan dananya di berbagai instrumen investasi.
Dia mengatakan perkembangan seperti ini mendorong pertumbuhan produksi premi asuransi jiwa lebih baik di awal tahun ini, meski kondisi perekonomian diwarnai tekanan atas kenaikan harga bahan bakar minyak.
Berdasarkan data AAJI, total pendapatan premi industri asuransi jiwa nasional tumbuh 61,1% menjadi Rp13,9 triliun di kuartal pertama tahun ini dibandingkan dengan periode sama tahun lalu Rp8,7 triliun.
Data bisnis asuransi jiwa (unaudited) itu diperoleh dari 40 perusahaan asuransi jiwa di Indonesia, yang terdiri dari 24 asuransi jiwa nasional dan 16 patungan.
Pendapatan premi produksi baru (new business) mencapai Rp10 triliun atau yang terbesar dari total pendapatan premi itu.
Unit-linked mendorong kinerja industri dengan pertumbuhan 126% menjadi Rp4,8 triliun untuk kategori premi produksi baru dan 91,6% menjadi Rp1,5 triliun untuk kategori premi lanjutan.
Wapresdir PT Asuransi Manulife Indonesia Adi Purnomo mengatakan kondisi gonjang-ganjing di pasar saham itu direspons berbeda-beda oleh masyarakat.
Menurut dia, ada pemegang polis yang mengalihkan penempatan portofolio investasi, redemption, dan penempatan baru.
"Harga [saham] yang turun itu sebagai peluang untuk dibeli, mereka berharap suatu hari imbal hasilnya akan naik. Kalau memang benar-benar berniat untuk berinvestasi ketika harga turun begini sebaiknya tidak dijual karena akan rugi. Justru beli unit lagi untuk mengompensasi kerugian dari investasi lainnya," ujarnya.
Namun, Adi menegaskan respons masyarakat menyikapi kondisi investasi masih dalam batas normal. "Tidak dalam jumlah besar-besaran," tuturnya.
Tidak sarankan
Chief Actuary AIG Life Iwan Pasila mengatakan pihaknya justru tidak berani menyarankan nasabah untuk mengambil kesempatan tersebut dengan memperbesar dana investasi di unit-linked. Hal ini disebabkan kondisi pasar sulit diprediksi.
Dia mengaku sempat memperkirakan kondisi investasi terburuk terjadi pada April.
"Ternyata Mei hasilnya lebih rendah lagi. Jadi kami tidak berani sarankan kepada nasabah karena jika ke depan hasil lebih buruk lagi tentu merugikan. Tidak fair untuk nasabah," katanya.
Iwan menambahkan menghadapi fluktuasi di pasar saham ini cukup banyak pemegang polis unit-linked yang melakukan pengalihan penempatan dana dari fixed income fund ke equity fund.
"Tapi ada juga beberapa nasabah yang melakukan top up dana investasi. Awalnya, kami sempat mengkhawatirkan adanya redemption. Ternyata memang ada, tetapi jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan yang melakukan top up maupun yang switch dana investasi," tegasnya. (hanna.prabandari@bisnis.co.id)
Oleh Hanna Prabandari
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- Perbanas: Konsolidasi bank meleset
- Kredit BCA tembus Rp100 triliun
- Asuransi umum jajaki merger
- BI minta bank tidak umbar kredit
- PROTEKSI
Cigna kembangkan model bisnis baru