Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Rabu, 09/07/2008

BNI lunasi subdebt lima tahun lebih awal

JAKARTA: PT Bank Negara Indonesia Tbk mempercepat pelunasan obligasi subordinasi senilai US$100 juta yang seharusnya jatuh tempo pada 2013. Tren kenaikan imbal hasil akibat gejolak perekonomian menjadi alasan penyelesaian utang itu.

Direktur Treasury Bank Negara Indonesia Bien Subiantoro mengatakan pelunasan obligasi dilakukan pekan ini. "Kami percepat pelunasan untuk meringankan beban biaya," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan ada beberapa pertimbangan yang membuat BNI mempercepat pelunasan obligasi yang diterbitkan pada 2003 itu, di antaranya gejolak ekonomi telah mendongkrak imbal hasil (yield) dan menjadikan beban perseroan.

Sejak diterbitkan 2003 dengan yield sebesar 7,5%, kini imbal hasil obligasi itu meningkat menjadi 9%. "Pertimbangan kami yield itu akan terus meningkat hingga 2013. Jadi, lebih baik kami melunasi lebih awal."

Menurut dia, dengan kondisi seperti ini pihaknya lebih memilih mencari valuta asing (valas) melalui pinjaman bilateral. Sebelumnya, pada kuartal pertama 2008 BNI telah mendapatkan pinjaman valas dari Standard Chartered Bank US$150 juta.

Komitmen pinjaman dari Standard Chartered, itu salah satu alasan BNI mempercepat pelunasan. "Pinjaman itu sudah kami tarik semua. Jadi, kondisi reserve valas kami cukup kuat. Saat ini ada sekitar US$500 juta," kata Bien.

Selain itu, lanjutnya, dana pihak ketiga yang berdenominasi valas juga mengalami peningkatan. Namun, Bien tidak menyebutkan berapa besar peningkatan dana tersebut.

Mengenai penerbitan obligasi yang targetnya pada kuartal ketiga 2008 sebesar US$250 juta-US$300 juta, menurutnya, rencana itu ditunda menyusul peningkatan cadangan dana valas internal yang diperoleh dari pinjaman bilateral dan masyarakat.

Menurut Bien, pelunasan obligasi subordinasi tanpa diikuti oleh penerbitan surat utang baru tidak akan menggerus modal BNI. "Ini karena tahun lalu kami baru saja melakukan rights issue, jadi dari sisi permodalan tidak ada masalah."

Analis Perbankan Credit Suisse Mirza Adityaswara menilai apa yang dilakukan BNI merupakan upaya dalam menekan biaya mengingat kecenderungan kenaikan bunga di pasar internasional. "Dalam struktur subdebt, biasanya tersedia opsi untuk melunasi lebih awal pada tahun kelima."

Menurut dia, imbas dari krisis perumahan di AS menjadikan lembaga keuangan internasional membatasi belanja surat berharga. Hal ini menyebabkan bunga menjadi lebih tinggi dan memberatkan perbankan di Tanah Air.

"Jadinya mereka memilih melunasi lebih awal. Untuk menerbitkan kembali pasti harganya mahal sehingga banyak yang menundanya," kata Mirza.

Jaringan Timur Tengah


Dalam kesempatan itu, Bien menyampaikan bahwa BNI akan melakukan ekspansi usaha dengan memperluas jaringan di luar negeri. Rencananya bulan depan bank pelat merah itu akan menambah empat kantor perwakilan di Timur Tengah.

Dia menjelaskan empat kantor perwakilan itu akan dioperasikan di Riyadh, Dubai, Qatar, dan Oman. Apabila keempat kantor perwakilan itu sukses menjalankan misi bisnis, maka akan ditingkatkan statusnya menjadi kantor cabang, seperti kantor cabang di lima negara saat ini.

BNI saat ini memiliki lima cabang pusat bisnis dunia di Singapura, Hong Kong, Tokyo, London dan New York yang didukung hampir 900 bank koresponden bank global. Rencananya kantor perwakilan di Timur Tengah berbentuk bank konvensional. (11/ Hery Trianto) (redaksi @bisnis.co.id)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • PLN negosiasi pinjaman US$1,3 miliar
  • Apresiasi dolar AS tekan emas
  • BNI & Stanchart amankan pasokan dolar AS
  • PORTFOLIO
    DBS Indonesia masuk segmen ritel
  • Kredit masuki fase perlambatan
  • PORTOFOLIO
    BRI bantu 4 Puskesmas
  • PORTOFOLIO
    Legislator nilai BI lemah
  • Mandiri uji tuntas akuisisi asuransi
  • Klaim asuransi minyak dan gas turun