Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 21/07/2008

Indonesia jadi kunci pertumbuhan bisnis ANZ Group di Asia
ANZ Panin kejar proyek listrik US$1,8 miliar

JAKARTA: PT ANZ Panin Bank, bank patungan ANZ Group dan PT Bank Panin Tbk, tengah terlibat dalam sindikasi kredit pembangkit listrik senilai US$1,8 miliar dalam skema pembiayaan langsung dan tidak langsung dengan menopang dana konsorsium perbankan asing.

ANZ Panin menjadi joint lead arranger sindikasi untuk proyek pembangkit listrik di Jawa senilai US$800 juta pada tahun ini. Namun, tidak disebutkan secara pasti proyek pembangkit listrik mana saja yang dibiayai.

ANZ Panin juga menjadi senior lead arranger untuk mendukung dana Konsorsium Sinosure, kelompok lembaga keuangan yang menopang bank-bank China dalam sindikasi kredit proyek percepatan pembangunan listrik 10.000 MW PLN. Dana yang dihimpun ANZ Panin US$1 miliar.

Salah satu bankir di lembaga keuangan itu mengatakan bahwa kesepakatan bisnis itu tidak dilakukan oleh sejumlah direksi ANZ Panin di Indonesia, melainkan pengendali langsung kawasan Asia, yakni ANZ Banking Group di Singapura.

"Keputusan-keputusan besar itu dilakukan di Singapura. Kalau di sini biasanya yang skala menengah ke bawah, meski bank ini tergolong campuran, tetapi langsung dikendalikan pusat [Australia]," ujarnya kepada Bisnis di Jakarta, pekan lalu.

Menurut dia, skema kredit sindikasi untuk proyek percepatan pembangunan listrik 10.000 MW itu kemungkinan ANZ Panin mengumpulkan dana untuk kebutuhan Sinosure.

Sementara itu, mengenai sindikasi kredit untuk power plant senilai US$800 juta dia mengaku tidak tahu pasti. "Kemungkinan itu milik swasta yang kontrak dengan PLN."

Direktur Keuangan PLN Setyo Dewo Anggoro juga mengaku belum mengetahui keterlibatan ANZ Panin dalam sindikasi kredit valas proyek fast track 10.000 MW. Kebutuhan valas PLN saat ini masih mengalami kekurangan sekitar US$2 miliar.

"Untuk yang US$800 juta saya tidak tahu pembangkit yang mana. Untuk yang US$1 miliar kami tidak tahu apakah lead-nya CEXIM [bank ekspor impor China] atau Bank of China, karena ini sindikasi. Kami hanya tahu pemimpin sindikasinya," ujarnya kepada Bisnis melalui layanan pesan singkat, pekan lalu.

Bank CEXIM dan Bank of China yang disebut Setyo adalah peserta tender kredit valas pembangkit listrik PLN senilai US$1 miliar yang sebelumnya juga disampaikan Dirut PLN Fahmi Mochtar. Berdasarkan catatan Bisnis, Kedua bank itu juga tergabung dalam konsorsium Sinosure.

Saat Bisnis mencoba menggali lebih dalam mengenai keterlibatan ANZ Panin dalam sindikasi sejumlah proyek pembangkit listrik itu, SVP Korporasi Banking ANZ Panin Tessa Sonoko enggan berkomentar.

Ekspansi bisnis


Pekan lalu, CEO ANZ Group Mike Smith datang ke Indonesia untuk meresmikan gedung baru ANZ di kawasan Jl. Jend Sudirman, Jakarta, guna meningkatkan ekspansi bisnis di Tanah Air dengan meningkatkan jumlah kantor cabang.

Smith menyampaikan pihaknya ingin meningkatkan portofolio pendapatan dari kawasan Asia melalui cabang dan anak perusahaan, salah satunya ANZ Panin, sebesar 20% dari posisi saat ini 7%.

Dia mengklaim selama dua-tiga tahun ini telah menanamkan dana sebesar US$1,5 miliar. Smith menargetkan dalam tiga-lima tahun ke depan ANZ Group akan menjadi lima besar super regional champion bank di kawasan Asia, salah satu melalui negara kunci Indonesia. (11) (redaksi@bisnis.co.id)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • Mandiri Finance cari pinjaman Rp210 miliar
  • Sun Life cari pengelola unit-linked
  • Asuransi umum kesulitan pertahankan laba
  • MEDIASI
    BI tinjau izin akuisisi BII