Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 21/07/2008

LDR bank di Sulsel tembus 100%

MAKASSAR: Rasio kredit terhadap simpanan di Sulsel untuk pertama kalinya menembus angka 100,14% setelah perbankan di wilayah itu menggelontorkan pinjaman baru sebesar Rp2,54 triliun selama Januari-Mei 2008.

Pada triwulan I/2008, loan to deposit ratio (LDR) tercatat baru sekitar 96,98%, sedangkan pada akhir 2007 sebesar 91,24%.

Selain oleh peningkatan laju kredit, melesatnya LDR tersebut dinilai mencerminkan kesulitan perbankan meraup dana pihak ketiga di Sulsel.

Pemimpin Kantor Bank Indonesia Makassar Rizal A. Djaafara mengatakan sejauh ini perbankan telah mengucurkan kredit Rp24,98 triliun dengan menggunakan dana yang dihimpun di Sulsel yang pada Mei 2008 berada di kisaran Rp24,95 triliun.

Dia menuturkan LDR di provinsi tersibuk di kawasan timur Indonesia itu sudah sejak awal 2007 menembus angka 100% apabila patokan yang dipakai adalah kredit menurut lokasi proyek, yaitu dengan memasukkan jumlah pinjaman dari luar Sulsel yang ditanamkan di daerah itu.

Pada posisi Mei 2008, LDR perbankan menurut lokasi proyek di Sulsel telah mencapai 113,30% dengan posisi kredit Rp28,27 triliun. Angka ini, LDR maupun total kredit, merupakan rekor.

"Secara umum Bank Indonesia senang bahwa perbankan begitu gencar terlibat membangun ekonomi Sulsel melalui pengucuran kredit. Namun, harus diakui memang ada tekanan dari sisi pertumbuhan dana pihak ketiga yang cenderung melambat," ujarnya, pekan lalu.

Rizal mengatakan peningkatan kredit ternyata tidak disertai lonjakan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross yang turun dari 10,40% pada Desember 2007 menjadi 9,80% pada Mei 2008.

Tiga sektor penyerap kredit terbesar di Sulsel menurut lokasi proyek berturut-turut sektor lain-lain Rp11,28 triliun, perdagangan Rp7,77 triliun, dan industri Rp3,11 triliun.

Kredit dari luar Sulsel yang disalurkan ke daerah itu sebesar Rp3,28 triliun, paling banyak mengalir ke sektor industri, angkutan, dan konstruksi.

Sulit DPK

Penasihat Perbanas Sulsel Onny Gappa mengungkapkan perbankan belakangan ini harus bersaing ketat untuk menggaet dana pihak ketiga. Persaingan, katanya, tidak saja terjadi antarbank, tetapi juga dengan lembaga atau produk keuangan dan investasi lain yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.

"Yang susah sekarang itu mencari nasabah yang mau menabung atau mengambil produk perbankan lainnya. Bahkan bank-bank bersaing cukup ketat," tukasnya.

Onny mengatakan kondisi sebaliknya terjadi pada kegiatan pengucuran kredit. Karena debitor banyak, bank dapat lebih selektif memilih.

Berdasarkan data Kantor Bank Indonesia Makassar, selama Januari-Mei 2008, jumlah simpanan masyarakat hanya bertambah Rp354,86 miliar.

Padahal periode sama tahun lalu, perbankan sanggup menarik dana pihak ketiga sampai Rp419,85 miliar.

Secara tahunan, posisi DPK cuma tumbuh 16,86%, sementara outstanding kredit melonjak 29,88%.

Oleh Kwan Men Yon
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • MEDIASI
    BNI biayai apartemen St. Moritz
  • Mayapada garap kredit mikro
  • Visa: Belanja komersial tumbuh 16,2%
  • Tuntutan Geria dianggap salah alamat
    Bank sentral tolak cairkan GWM 3 bank