Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Jumat, 29/08/2008
Mandiri Finance cari pinjaman Rp210 miliar
JAKARTA: PT Mandiri Finance Indonesia akan mencari tambahan modal dari pinjaman bank sebesar Rp210 miliar guna mendukung pembiayaan hingga akhir tahun mencapai Rp800 miliar.
Direktur Utama Mandiri Finance Indonesia Hosea Sanjaya mengatakan pada tahun ini pihaknya memproyeksikan mendapatkan pinjaman bank senilai Rp700 miliar dan baru terealisasi 70% atau setara dengan Rp490 miliar.
"Pinjaman yang akan terealisasi tersebut akan kami terima dari bank-bank yang telah memiliki kerja sama. Tetapi saya belum bisa menyebutkannya, kan belum deal," katanya saat dihubungi Bisnis, baru-baru ini.
Sejauh ini, Mandiri Finance masih mengandalkan pinjaman bank sebagai sumber pendanaan dengan portofolio sebesar 85% atau setara dengan Rp400 miliar dan sisanya merupakan modal sendiri.
Sejumlah delapan bank menjadi pemasok dana di antaranya Bank Mandiri, Permata, Niaga, dan Bank DKI dengan plafon pinjaman berkisar antara Rp100 miliar dan Rp200 miliar dengan bunga 12%-14% serta jangka waktu selama tiga tahun.
Selain itu, perseroan juga akan mendapatkan suntikan modal dari para pemegang saham sebesar Rp35 miliar pada bulan depan sebagai komitmen untuk mengembangkan perusahaan. Hosea menuturkan pihaknya belum berencana menerbitkan obligasi.
Pembiayaan naik
Per Juni 2008, Mandiri Finance telah merealisasikan pembiayaan mencapai Rp320 miliar atau meningkat 33,33% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp240 miliar. Tahun ini, perseroan menargetkan pembiayaan mencapai Rp800 miliar atau naik dua kali lipat dari realisasi Desember 2007 sebesar Rp400 miliar.
Hingga semester I/2008, perseroan telah membukukan laba bersih sekitar Rp8 miliar atau meningkat 100% dari Juni 2007 sebesar Rp4 miliar. Manajemen optimistis mampu membukukan laba bersih 2008 sebesar Rp20 miliar, naik 122,2% dibandingkan dengan akhir tahun lalu sebesar Rp9 miliar.
"Dengan aset yang produktif, NPL terjaga, menekan biaya operasional, berusaha untuk tidak berspekulasi, dan dalam pembukaan cabang SDM diperhatikan akan memicu tumbuhnya laba," tutur Hosea.
Dia menambahkan pembiayaan masih terfokus kepada luar Jawa di mana sebesar 80% masih didominasi di Kalimantan, tetapi sejumlah kantor cabang didirikan di Jabodetabek, Jambi, Palembang, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara.
"Luar Jawa dilihat dari segi bisnisnya sangat mendukung, contohnya permintaan akan alat berat serta kendaraan seperti truk, motor dan mobil lebih pesat," kata Hosea.
Pembiayaan tersebut juga diiringi prinsip prudent, hal itu tercermin dengan rasio pembiayaan masalah yang tercatat masih di bawah 1% dan menjaganya hingga akhir tahun tidak melebihi 3%. Bunga yang diberikan kepada nasabah berkisar 15%-19% dengan jangka waktu mencapai tiga tahun.
"Kami tidak melepas kredit secara agresif, tidak terlalu menguasai pasar, dan tidak membiayai barang yang overstock karena NPL bisa tinggi." (18)
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- Relaksasi pemenuhan modal terhambat proposal asuransi
- 'Ada indikasi dana masyarakat mulai keluar'
- FLUKTUASI
Visa Indonesia bidik industri asuransi - FLUKTUASI
BII incar sektor UMKM & remittance - Tripa kejar asuransi grup perusahaan