Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Sabtu, 06/09/2008
Perbanas: Konsolidasi bank meleset
JAKARTA: Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) menyatakan konsolidasi perbankan sebagaimana dituju Arsitektur Perbankan tidak tepat sasaran. Dari keinginan mengurangi bank menjadi 50, hingga saat ini masih 127 bank.
Menurut Ketua Perbanas Sigit Pramono, konsolidasi perbankan dalam API bisa dikatakan gagal, karena selama empat tahun berjalan hanya bisa merampingkan tujuh bank, dan kebanyakan bank tersebut dilepas ke pihak asing.
Di lain sisi, lanjutnya, sejumlah kalangan juga protes karena kepemilikan asing pada industri perbankan nasional kian meningkat. "Ini perlu pemahaman apakah perbankan itu perlu ramping atau memperkuat modal," tutur Sigit di Jakarta, pekan ini.
Menurut dia, kalau konsolidasi itu ditujukan untuk memperkuat permodalan, konsep itu sangat bagus meski pada akhirnya justru pemodal asing yang paling banyak menyokong perbankan Indonesia. "Itu adalah sebuah pilihan kalau mau merampingkan bank."
Dia berpendapat sebaiknya jumlah bank tidak usah terlalu sedikit yang terpenting bank itu sehat dan bisa menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan regulasi.
Sigit juga mengusulkan perlunya konsensus nasional untuk menjadikan Arsitektur Perbankan Indonesia sebagai UU agar proses konsolidasi perbankan bisa berjalan. Konsensus nasional tersebut harus melibatkan pemerintah, parlemen, dan industri agar masing-masing pihak bisa peduli akan program API.
"Semestinya API juga perlu dimiliki pemerintah dan parlemen. Selama ini kita selalu kaget mendengar jumlah bank asing yang semakin banyak, padahal itu hasil kebijakan yang kita keluarkan sendiri," ujarnya.
Deputi Gubernur BI Muliaman D. Hadad membantah apabila proses konsolidasi bank tidak berjalan. Pasalnya feno-mena merger dan akuisisi saat ini sudah menjadi kebutuhan industri perbankan dan bukan hanya pada industri lokal melainkan global.
"Konsolidasi itu kan sudah menjadi kebutuhan, jadi banyak faktor yang memengaruhi. Jadi bukannya tidak berjalan. Tahun ini kan banyak bank yang merger. Ini waktunya industri perbankan melakukan konsolidasi dengan aturan yang ada," paparnya.
Terkait dengan kekhawatiran investor asing atau bank asing kian mendominasi industri perbankan nasional, menurut dia, bank sentral tidak terlalu risau karena sudah ada lembaga yang mengatur mengenai persaingan usaha. (11)
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- PORTFOLIO
Victoria perkuat jaringan kantor - CIMB Niaga incar pembiayaan mikro
- Pertumbuhan asuransi global tersendat
- Krakatau Steel finalisasi kredit US$200 juta
- Pemerintah panggil BUMN terkait transaksi derivatif