Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 08/09/2008

Bank Ekspor tambah utang valas US$53 juta

JAKARTA: Setelah pada 11 Juli mencairkan utang US$100 juta, PT Bank Ekspor Indonesia memperbesar eksposur pinjaman valuta asing US$53 juta melalui fasilitas green shoe yang diberikan oleh sepuluh bank.

Direktur Utama Bank Ekspor Indonesia Arifin Indra mengatakan perjanjian kredit baru tersebut akan ditanda tangani di Singapura pekan ini. Sebagaimana pinjaman pertama Juli, Natixis -bank investasi asal Prancis-bertindak sebagai agen fasilitas.

"Ini merupakan green shoe [opsi penambah], dari lima bank yang memberi kredit US$100 juta, kini bertambah anggotanya menjadi sepuluh bank," tuturnya di Jakarta, pekan lalu.

Arifin mengatakan pencairan tambahan kredit tersebut akan menjadikan outstanding utang valas Bank Ekspor menjadi US$543 juta. Menurut dia, tambahan utang valas sudah mendapatkan persetujuan BI.

Bank Ekspor merupakan bank milik pemerintah dengan fokus kepada pembiayaan ekspor. Tidak sebagaimana bank umum lainnya, bank ini tidak menghimpun dana masyarakat sehingga hanya mengandalkan pinjaman dari lembaga keuangan internasional sebagai sumber pembiayaan.

Adapun kelima bank kreditor pinjaman US$100 juta pada Juli The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd, Natixis, OCBC Ltd, Standard Chartered Bank, dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation. Arifin tidak memerinci nama kreditor baru dalam perjanjian kredit tambahan yang ditandatangani di Singapura itu.

Dia hanya mengatakan kredit tambahan akan dikenakan bunga suku bunga London interbank offered (Libor) + 100 basis poin. Itu berarti lebih mahal 20 basis poin  dibandingkan dengan pinjaman pertama.

Dalam perjanjian kredit Juli, para kreditor memang telah sepakat memberikan opsi penambah hingga US$80 juta.

Pembiayaan Bank Ekspor sejauh ini masih didominasi untuk ekspor minyak kelapa sawit mentah. Hingga Juni, bank yang segera berubah menjadi Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia itu membukukan laba bersih Rp147 miliar.

Oleh Hery Trianto
Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • PLN negosiasi pinjaman US$1,3 miliar
  • Apresiasi dolar AS tekan emas
  • BNI & Stanchart amankan pasokan dolar AS
  • PORTFOLIO
    DBS Indonesia masuk segmen ritel
  • Kredit masuki fase perlambatan
  • PORTOFOLIO
    BRI bantu 4 Puskesmas
  • PORTOFOLIO
    Legislator nilai BI lemah
  • Mandiri uji tuntas akuisisi asuransi
  • Klaim asuransi minyak dan gas turun