Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Senin, 08/09/2008
Gapkindo: Strategi menaikkan harga karet belum perlu dilakukan
JAKARTA: Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) menilai harga karet alam, meski cenderung turun, masih menguntungkan bagi Tanah Air sehingga belum perlu melancarkan kebijakan untuk memengaruhi pasar.
Direktur Eksekutif Gapkindo Suharto Honggokusumo memperkirakan harga karet masih berpeluang menguat menyusul peningkatan permintaan pada komoditas itu.
"Meskipun trennya turun, harga karet alam masih punya potensi naik. Kami lihat dari 10 negara pengimpor karet dunia, tujuh negara ada di Asia. Hal ini menandakan tingginya permintaan karet," katanya kepada Bisnis, di Jakarta akhir pekan lalu.
Harga karet alam di bursa Tokyo Commodity Exchange (Tocom) turun seiring dengan anjloknya harga minyak mentah dunia sehingga mengu-rangi ketertarikan investor pada komoditas itu sebagai salah satu alternatif investasi lindung nilai dari tekanan inflasi.
Penurunan harga minyak mentah juga memangkas biaya pembuatan karet sintetis sebagai bahan dasar alternatif ban mobil. Karet sintetis merupakan rival terberat karet alam.
Suharto melanjutkan belum ada kebijakan dari Gapkindo untuk menaikkan harga karet. Menurut dia, strategi untuk menaikkan harga baru dilancarkan jika ketidakstabilan harga berlangsung dalam kurun waktu yang lama.
Kontrak karet turun 2,6% seiring dengan pelemahan harga minyak hingga lebih dari 6% pekan lalu. Selain penurunan harga minyak mentah, penguatan nilai tukar dolar AS ke level tertingginya sepanjang tahun ini terhadap euro juga menekan harga karet.
"Kalau [harga] terlalu tinggi juga tidak baik, sebaliknya kalau harga rendah justru petani kita tidak diuntungkan. Kebijakan kenaikan belum terpikirkan sebab hal itu terjadi apabila harga tidak stabil dalam waktu lama," ujarnya.
Namun, krisis politik yang mendera Thailand, produsen karet alam terbesar dunia, diperkirakan memengaruhi produksi dari negara itu dan akhirnya mendongkrak harga.
Pada perdagangan di Tocom, kemarin, karet untuk pengiriman Februari turun 2,5% menjadi 308,6 yen per kg atau setara dengan US$2.93 per ton. Harga karet anjlok 3,8% sepanjang pekan lalu yang merupakan pelemahan pertama dalam tiga pekan terakhir.
Harga karet di bursa Shanghai Futures Exchange naik 2% menjadi 22.780 yuan atau setara dengan US$3.33 per ton.
Kontrak teraktif karet naik menjadi 356,9 yen pada 30 Juni, yang merupakan level tertinggi dalam 28 tahun komoditas itu diperdagangkan. Pada umumnya, ketika harga minyak tinggi, komoditas itu menjadi salah satu pilihan utama bagi investor.
Suharto melanjutkan Gapkindo yang kini beranggotakan 148 perusahaan, terdiri dari 120 perusahaan pengolah karet dan sisanya perusahaan pedagang karet, kini menjalin kerja sama dengan Badan Meteorologi dan Geofisika guna mengantisipasi perubahan iklim yang menjadi salah satu penyebab harga karet turun. (23)
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- PORTFOLIO
Victoria perkuat jaringan kantor - CIMB Niaga incar pembiayaan mikro
- Pertumbuhan asuransi global tersendat
- Krakatau Steel finalisasi kredit US$200 juta
- Pemerintah panggil BUMN terkait transaksi derivatif