Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 08/09/2008

Bank incar hybrid capital sebagai alternatif modal

JAKARTA: Kalangan bank berancang-ancang untuk menjajaki penggunaan instrumen hybrid capital sebagai alternatif pendukung sumber permodalan jangka panjang sambil menanti kepastian regulasi dari Bank Indonesia.

Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Abdul Salam mengatakan hybrid capital rencananya akan diberlakukan oleh bank sentral pada semester ini dan kalangan bank menanti adanya alternatif sumber permodalan itu.

"Saat ini telah ada beberapa investor yang mengajukan penawaran penggunaan hybrid capital, tetapi kami akan mengkaji dulu peluang penggunaan instrumen itu sambil menunggu keluarnya peraturan dari bank sentral," jelasnya kepada Bisnis, pekan lalu.

Bank Indonesia rencananya akan menerbitkan ketentuan yang mengizinkan perbankan menggunakan instrumen hybrid capital berupa dana tidak tetap untuk memperkuat struktur permodalan dalam rangka ekspansi usaha.

Hybrid capital adalah modal pelengkap tambahan yang akan diperoleh perbankan melalui pinjaman bilateral atau sindikasi berjangka panjang, yakni minimal lima tahun yang kemudian ditempatkan pada struktur modal yang ditetapkan bank sentral sebagai modal tier 3.

Abdul Salam menuturkan rencana diperbolehkannya bank menggunankan komponen modal tersebut dapat mendorong kinerja keuangan bank tumbuh lebih agresif.

Menurutnya, aturan itu merupakan bentuk kebijakan yang positif untuk kemajuan industri bank dengan ketentuan permodalan yang lebih longgar.

"Sejumlah investor luar negeri pernah mengajukan penawaran fasilitas hybrid capital itu, tapi kami masih menunggu kepastian regulasinya," jelasnya.

Di luar negeri, lanjutnya, fasilitas hybrid capital telah menjadi bagian dari struktur permodalan perbankan, sehingga kalangan investor telah akrab dengan jenis investasi itu.

Wadirut PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiaatmadja mengutarakan bank akan membutuhkan sumber pendanaan jangka panjang yang lebih likuid dalam beberapa tahun ke depan. (17)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • PLN negosiasi pinjaman US$1,3 miliar
  • Apresiasi dolar AS tekan emas
  • BNI & Stanchart amankan pasokan dolar AS
  • PORTFOLIO
    DBS Indonesia masuk segmen ritel
  • Kredit masuki fase perlambatan
  • PORTOFOLIO
    BRI bantu 4 Puskesmas
  • PORTOFOLIO
    Legislator nilai BI lemah
  • Mandiri uji tuntas akuisisi asuransi
  • Klaim asuransi minyak dan gas turun