Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan
Menu Cetak
Tabel Bursa Moneter
| Reksadana |
| Multimoda |
| Insurance Unit Link |
| Obligasi Retail |
| Suku Bunga Deposito |
Senin, 08/09/2008
Dana bank syariah di BI mulai terkuras
JAKARTA: Penempatan dana bank syariah pada Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) pada Juli turun menjadi Rp2,55 triliun, atau menyusut sebesar Rp630 miliar jika dibandingkan dengan posisi awal tahun ini.
Penurunan itu disebabkan oleh meningkatnya ekspansi pembiayaan yang tidak diiringi pertumbuhan dana masyarakat. Pada Juli 2008, pembiayaan bank syariah meningkat 48,4% menjadi Rp35,18 triliun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), porsi penempatan dana bank syariah di SBIS menjadi sekitar 5,8% jika dibandingkan dengan perolehan dana masyarakat pada bulan yang sama sebesar Rp32,89 triliun. Padahal, pada awal tahun ini porsi penempatan dana bank syariah pada SBIS sebesar 8,9%.
Penempatan dana di SBIS pada Maret 2008 sempat menurun, karena masih menggunakan instrumen lama, yakni Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) yang dinilai kurang menguntungkan bagi bank syariah.
Namun, setelah diganti dengan SBIS pada April penempatan dana kembali meningkat, dan penurunan kembali terjadi setelah ekspansi pembiayaan dalam tiga bulan terakhir melonjak di atas 40%.
Dalam waktu yang sama (Juli), dana masyarakat yang ditaruh pada bank syariah justru tergerus Rp150 miliar menjadi Rp32,89 triliun dari bulan sebelumnya Rp33,04 triliun. Hal ini terjadi karena penurunan giro wadiah hingga Rp500 miliar menjadi Rp4,56 triliun.
Kenaikan pos deposito dan tabungan masing-masing Rp120 miliar dan Rp220 miliar tak mampu menutupi defisit dana pihak ketiga. Hingga Juli portofolio kedua pos tersebut masing-masing Rp17,26 triliun dan Rp11,07 triliun.
Penurunan SBIS ini merupakan fenomena yang sama pada penempatan dana bank konvensional di Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Pada Juni, SBI menyusut hingga Rp88,4 triliun menjadi Rp113,65 triliun, posisi terendah sejak 2006.
Minim likuiditas
Kepala Divisi Unit Usaha Syariah Bank Negara Indonesia (BNI) Ismi Kushartanto membenarkan fenomena seretnya mendapatkan likuiditas pada bank konvensional juga terjadi pada bank syariah, sementara ekspansi pembiayaan jalan terus.
Oleh sebab itu, lanjutnya, bank syariah mencairkan dana yang di tempatkan pada SBIS. "Sekarang kan ekspansi masih terus, sementara suku bunga bank konvensional juga luar biasa. Jadi, mau tidak mau kami mengambil duit di SBIS," ujarnya kepada Bisnis di Jakarta, kemarin.
Anjloknya dana pada SBIS itu, menurut dia, juga diikuti penurunan tingkat partisipasi bank syariah pada lelang instrumen itu.
Dalam dua bulan terakhir penawaran SBIS turun drastis, rerata sebesar Rp200 miliar per pekan. Bahkan pada 13 Agustus, bank sentral hanya menyerap Rp50 miliar, terendah sejak lelang instrumen itu dilakukan pertengahan April lalu. Pada awal SBIS diterbitkan, penawaran mencapai Rp1,01 triliun.
Menurut Ismi, bank syariah juga berupaya menggenjot pertumbuhan dana dengan menaikkan imbal hasil untuk menarik dana nasabah. "Bunga deposito bank konvensional saja mencapai 13%, jadi kami menaikkan imbal hasil di kisaran 10%-11%." (11) (redaksi@bisnis.co.id)
Bisnis Indonesia
bisnis.com
Berita Lain
- PORTFOLIO
Victoria perkuat jaringan kantor - CIMB Niaga incar pembiayaan mikro
- Pertumbuhan asuransi global tersendat
- Krakatau Steel finalisasi kredit US$200 juta
- Pemerintah panggil BUMN terkait transaksi derivatif