Bisnis Indonesia Online » Edisi Cetak » Edisi Harian » Keuangan


Menu Cetak

Menu Utama
Halaman Depan
Tajuk
Bursa
Keuangan
Perdagangan
Ekonomi Makro
Manufaktur
Jasa & Transportasi
Umum
Teknologi Informasi
Ritel dan UKM & Mikro
Agribisnis
Sup. Properti
Regional
Megapolitan
Ekonomi Global
Hukum Bisnis
Jatim & KTI
Oasis
Opini
Otomotif
Pertambangan
Valas & Komoditas
Transportasi & Logistik
Pajak &Cukai
Daftar Isi

Tabel Bursa Moneter

Reksadana
Multimoda
Insurance Unit Link
Obligasi Retail
Suku Bunga Deposito


Senin, 08/09/2008

Unit syariah BNI biayai Selaparang

JAKARTA: Unit Usaha Syariah Bank Negara Indonesia (BNI) bersama Bank Persyarikatan Indonesia (BPI) mengucurkan pinjaman pada proyek pembangunan Bandara Selaparang di Nusa Tenggara Barat senilai Rp70 miliar.

Kepala Divisi BNI Syariah Ismi Kushartanto mengatakan penandatanganan pinjaman untuk investasi jangka menengah itu telah dilakukan pekan lalu. "Pinjaman ini club deal dengan Bank Persyarikatan, dan sudah ditandatangani pekan lalu," ujarnya kepada Bisnis, kemarin.

Berdasarkan penelusuran Bisnis, pembangunan pelabuhan udara itu merupakan penggantian Bandara Selaparang dengan Bandara Lombok Tengah karena alasan keselamatan penerbangan.

Lebar landasan Bandara Selaparang hanya 40 meter sudah tidak memadai lagi, karena sesuai dengan ketentuan internasional minimal 45 meter. Sementara itu, perluasan lahan tidak dimungkinkan karena terletak di area permukiman yang padat penduduk. Biaya pembangunan bandara itu sebesar Rp665 miliar.

Ismi menjelaskan porsi BNI Syariah pada kesepakatan club deal itu sebesar Rp50 miliar, sedangkan sisanya didanai BPI. Menurut dia, pembiayaan sarana infrastruktur pelabuhan itu merupakan pertama kali dilakukan oleh perbankan syariah.

"Kami ingin membidik pembiayaan yang produktif dengan mengucurkan pinjaman sektor infrastruktur. Dalam program kerja kami memang masih ada beberapa pinjaman sindikasi atau bilateral, tapi kami akan sesuaikan dengan kondisi dana," paparnya.

Porsi syariah


Ismi menyampaikan hingga akhir Agustus portofolio pembiayaan divisi syariah mencapai Rp3,05 triliun, angka tersebut hampir mendekati target tahun ini sebesar Rp3,4 triliun. Posisi pembiayaan divisi syariah BNI akhir tahun lalu sebesar Rp1,7 triliun.

Sebelumnya, Ismi menyampaikan divisi syariah BNI tengah terlibat dalam pembiayaan sindikasi senilai Rp2 triliun pada sektor energi dan telekomunikasi sepanjang paruh terakhir tahun ini.

Dia mengutarakan sejumlah sindikasi yang tengah ditangani di antaranya pembiayaan untuk proyek pembangkit listrik terapung di Medan, Sumatra Utara, senilai Rp300 miliar yang melibatkan empat bank syariah.

Menurut dia, BNI Syariah dalam sindikasi tersebut berpartisipasi sekitar Rp75 miliar, sementara sisanya dipenuhi unit syariah Bank Lippo, Bank Niaga dan porsi terbesar PT Bank Syariah Mandiri (BSM) selaku pemimpin sindikasi.
Namun, Ismi tidak mengetahui pasti berapa porsi tiga bank lainnya. "Rencananya diteken bulan lalu, tetapi masih ada persoalan administratif yang belum selesai."

Selain sindikasi pada sektor energi itu, menurut Ismi, saat ini pihaknya tengah bernegosiasi untuk pembiayaan sektor telekomunikasi senilai Rp400 miliar. Dia mengungkapkan BNI Syariah akan menjadi pemimpin sindikasi pada proyek tersebut. (11)

Bisnis Indonesia

bisnis.com

Berita Lain

  • PLN negosiasi pinjaman US$1,3 miliar
  • Apresiasi dolar AS tekan emas
  • BNI & Stanchart amankan pasokan dolar AS
  • PORTFOLIO
    DBS Indonesia masuk segmen ritel
  • Kredit masuki fase perlambatan
  • PORTOFOLIO
    BRI bantu 4 Puskesmas
  • PORTOFOLIO
    Legislator nilai BI lemah
  • Mandiri uji tuntas akuisisi asuransi
  • Klaim asuransi minyak dan gas turun